digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri kosmetik sangat bergantung pada pengalaman sensorik langsung, di mana meja tester berfungsi sebagai titik interaksi vital bagi konsumen untuk mencoba produk sebelum membeli (try before you buy). Namun, desain meja tester konvensional menghadapi tantangan higienitas terkait risiko kontaminasi silang patogen serta kurangnya fleksibilitas dalam menghadapi dinamika ruang ritel. Aspek ergonomi yang buruk, kesemrawutan visual (visual clutter), dan manajemen kebersihan yang minim sering kali menurunkan citra merek serta kenyamanan pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem meja tester kosmetik modular bagi merek lokal Hanasui guna menjawab permasalahan tersebut. Pendekatan perancangan didasarkan pada analisis perilaku pengguna (user behavior), prinsip ergonomi, dan standar higienitas pasca-pandemi. Metodologi penelitian menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tim Visual Merchandising Hanasui, serta survei daring kepada 22 responden target pasar. Hasil survei menunjukkan 77,3% responden mengeluhkan kondisi meja tester konvensional yang kotor atau berantakan, yang berdampak langsung menurunkan minat coba konsumen. Melalui studi komparasi terhadap kompetitor seperti Wardah dan Maybelline, ditemukan celah inovasi berupa ketiadaan fleksibilitas baki (tray) produk secara parsial dan absennya wadah sanitasi terintegrasi pada display eksisting. Solusi desain yang diusulkan adalah sistem meja tester modular berbasis Arsitektur Bus yang adaptif. Sistem ini memungkinkan konfigurasi ulang tata letak sesuai ketersediaan ruang toko (seperti gondola end-cap atau table top) menggunakan baki yang dapat ditukar-pasang (swappable trays). Rancangan ini mengintegrasikan material non-porous seperti acrylic solid surface untuk memitigasi noda kimia kosmetik, serta fitur ergonomis yang disesuaikan dengan antropometri wanita Indonesia rentang persentil ke-5 hingga persentil ke-95. Desain juga mencakup zonasi area horizontal dan vertikal (Spatial Zoning) yang mempengaruhi perilaku pelanggan dan hygiene station terintegrasi. Kebaruan perancangan terletak pada integrasi penuh antara sistem modularitas mekanis furnitur knock-down dengan manajemen sanitasi ritel berpusat pada pengguna. Kontribusi penelitian ini memberikan acuan desain retail fixture yang berkelanjutan serta memperkaya khazanah keilmuan desain produk.