Industri kosmetik sangat bergantung pada pengalaman sensorik langsung, di mana meja
tester berfungsi sebagai titik interaksi vital bagi konsumen untuk mencoba produk
sebelum membeli (try before you buy). Namun, desain meja tester konvensional
menghadapi tantangan higienitas terkait risiko kontaminasi silang patogen serta
kurangnya fleksibilitas dalam menghadapi dinamika ruang ritel. Aspek ergonomi yang
buruk, kesemrawutan visual (visual clutter), dan manajemen kebersihan yang minim
sering kali menurunkan citra merek serta kenyamanan pengguna. Penelitian ini
bertujuan untuk merancang sistem meja tester kosmetik modular bagi merek lokal
Hanasui guna menjawab permasalahan tersebut.
Pendekatan perancangan didasarkan pada analisis perilaku pengguna (user behavior),
prinsip ergonomi, dan standar higienitas pasca-pandemi. Metodologi penelitian
menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, meliputi studi literatur, observasi
lapangan, wawancara mendalam dengan tim Visual Merchandising Hanasui, serta survei
daring kepada 22 responden target pasar. Hasil survei menunjukkan 77,3% responden
mengeluhkan kondisi meja tester konvensional yang kotor atau berantakan, yang
berdampak langsung menurunkan minat coba konsumen. Melalui studi komparasi
terhadap kompetitor seperti Wardah dan Maybelline, ditemukan celah inovasi berupa
ketiadaan fleksibilitas baki (tray) produk secara parsial dan absennya wadah sanitasi
terintegrasi pada display eksisting.
Solusi desain yang diusulkan adalah sistem meja tester modular berbasis Arsitektur Bus
yang adaptif. Sistem ini memungkinkan konfigurasi ulang tata letak sesuai ketersediaan
ruang toko (seperti gondola end-cap atau table top) menggunakan baki yang dapat
ditukar-pasang (swappable trays). Rancangan ini mengintegrasikan material non-porous
seperti acrylic solid surface untuk memitigasi noda kimia kosmetik, serta fitur
ergonomis yang disesuaikan dengan antropometri wanita Indonesia rentang persentil
ke-5 hingga persentil ke-95. Desain juga mencakup zonasi area horizontal dan vertikal
(Spatial Zoning) yang mempengaruhi perilaku pelanggan dan hygiene station
terintegrasi. Kebaruan perancangan terletak pada integrasi penuh antara sistem
modularitas mekanis furnitur knock-down dengan manajemen sanitasi ritel berpusat
pada pengguna. Kontribusi penelitian ini memberikan acuan desain retail fixture yang
berkelanjutan serta memperkaya khazanah keilmuan desain produk.
Perpustakaan Digital ITB