Michael Samuel Sunanto dalam tugas akhirnya merancang meja tester produk kosmetik modular untuk merek lokal Hanasui. Perancangan ini didasari oleh permasalahan meja tester konvensional di lingkungan ritel yang sering kotor, berantakan, kurang higienis (risiko kontaminasi silang), tidak fleksibel terhadap dinamika ruang, dan memiliki ergonomi yang buruk, yang kesemuanya berdampak negatif pada citra merek serta kenyamanan dan minat coba konsumen.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, termasuk studi literatur, observasi lapangan, wawancara dengan tim visual merchandising Hanasui, serta survei daring kepada 22 responden target pasar. Pendekatan desain didasarkan pada analisis perilaku pengguna, prinsip ergonomi, dan standar higienitas pascapandemi.
Hasil survei menunjukkan 77,3% responden mengeluhkan kondisi meja tester yang kotor atau berantakan, dan studi komparasi terhadap kompetitor menemukan kurangnya fleksibilitas baki produk serta ketiadaan wadah sanitasi terintegrasi pada display yang ada.
Solusi yang diusulkan adalah sistem meja tester modular berbasis arsitektur bus yang adaptif, memungkinkan konfigurasi ulang tata letak sesuai ketersediaan ruang toko dengan baki yang dapat ditukar pasang (swappable trays). Desain ini mengintegrasikan material nonporous (acrylic solid surface) untuk mitigasi noda, fitur ergonomis yang disesuaikan dengan antropometri wanita Indonesia (persentil ke-5 hingga ke-95), zonasi spasial horizontal dan vertikal, serta *hygiene station* terintegrasi.
Kebaruan perancangan terletak pada integrasi penuh antara sistem modularitas mekanis furnitur knockdown dengan manajemen sanitasi ritel yang berpusat pada pengguna. Penelitian ini berkontribusi sebagai acuan desain *retail fixture* yang berkelanjutan dan memperkaya khazanah keilmuan desain produk.