Penelitian ini menginvestigasi potensi mineral alami, yaitu tanah liat (clay) dan
kuarsa, sebagai adsorben untuk menghilangkan ion nikel (Ni2+) dari air. Dengan
posisi Indonesia sebagai produsen nikel global yang signifikan, isu pencemaran
logam berat di badan air sekitar area pertambangan menjadi krusial. Mineralmineral ini melimpah di daerah pertambangan nikel, seperti Pulau Obi, dan
diketahui memiliki kemampuan adsorpsi. Studi ini mengevaluasi kinerja adsorpsi
kedua mineral dan campurannya terhadap konsentrasi nikel terlarut. Hasil uji
karakteristik fisik menunjukkan bahwa baik tanah liat maupun kuarsa efektif dalam
menurunkan konsentrasi nikel, yang terbukti dari penurunan konduktivitas air
secara signifikan. Pengukuran pada sampel yang diuji dengan tanah liat
menunjukkan penurunan konduktivitas rata-rata sebesar 21,875 µS/cm selama 120
menit. Selama periode kontak 120 menit, tanah liat mampu menurunkan
konsentrasi nikel terlarut dari 60 hingga 500 µg/L, sedangkan kuarsa hanya mampu
menurunkan dari 0,5 hingga 117 µg/L. Kapasitas adsorpsi tanah liat pada waktu
optimum (120 menit) jauh lebih tinggi (13,495 µg/g) dibandingkan dengan kuarsa
(2,717 µg/g), sejalan dengan mekanisme adsorpsi yang dominan pada masingmasing mineral. Kombinasi tanah liat dan kuarsa juga menunjukkan hasil yang
bervariasi; campuran 50% tanah liat dan 50% kuarsa memiliki kapasitas adsorpsi
tertinggi sebesar 14,728 µg/g.
Perpustakaan Digital ITB