Article Details

PENGENDALIAN KUALITAS UDARA DALAM RUANGAN MENGGUNAKAN AIR PURIFIER BERBASIS TEKNOLOGI ION-EXCHANGER DAN FILTER HEPA PADA LABORATORIUM KESEHATAN DAERAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Oleh   Dini Meidita [10415024]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Pingkan Aditiawati, MS;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : SITH - Mikrobiologi
Fakultas : Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)
Subjek :
Kata Kunci : air-purifier, bioaerosol, COVID-19, filter HEPA, Ion-Exchanger, laboratorium kesehatan
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-09-28 19:35:23

Mikroorganisme dalam bentuk bioaerosol ditemukan memiliki hubungan dengan penyakit infeksius maupun non-infeksius pada manusia sehingga dapat menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan manusia. Laboratorium Kesehatan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat merupakan laboratorium rujukan untuk penanganan sampel-sampel non-infeksius dan infeksius, salah satunya adalah sampel COVID-19, sehingga berpotensi meningkatkan konsentrasi agen infeksi pada bioaerosol dan kualitas udara yang kurang baik dapat memfasilitasi terjadinya transmisi mikroorganisme infeksius. Air purifier telah banyak digunakan untuk meningkatkan kualitas udara karena kelebihannya mengurangi kadar polutan kimia dan fisika di udara. Akan tetapi, studi terkait efektivitas dan efisiensi air purifier berbasis kombinasi teknologi Ion-Exchanger dan filter HEPA terhadap kelimpahan dan diversitas mikroorganisme di udara masih belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur waktu penggunaan air purifier minimum dan efisiensi penggunaan air purifier berbasis kombinasi teknologi Ion-Exchanger dan filter HEPA untuk ruangan Laboratorium Kesehatan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Penentuan waktu penggunaan air purifier minimum dan efisiensi penggunaan air purifier dilakukan berdasarkan pengamatan dinamika komunitas mikroorganisme, yakni kuantifikasi jumlah dan keanekaragaman bakteri, ragi, dan jamur culturable dari sampel udara sebelum dan sesudah penggunaan air purifier. Sampel udara diambil dengan metode filtrasi menggunakan filter membran dengan ukuran pori 0,45 mikron dan pompa vakum dengan laju hisap udara 17L/menit, masing-masing selama 4 jam. Isolasi dan enumerasi mikroorganisme culturable dilakukan dengan menggunakan media Nutrient Agar (NA), Potato Dextrose Agar (PDA), Salmonella-Shigella Agar (SSA), Eosin-Methylene Blue Agar (EMB), dan modified R2A Agar dengan metode sebar untuk selanjutnya dilakukan perhitungan ALT (Angka Lempeng Total). Koloni mikroorganisme yang tumbuh kemudian diisolasi dan diidentifikasi menggunakan MALDI-TOF Mass Spectrometry. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan air purifier berbasis teknologi filter HEPA dan Ion-Exchanger dapat meningkatkan kualitas udara dalam ruangan Laboratorium Kesehatan Daerah Jawa Barat yang dievaluasi dari penurunan jumlah total mikroba. Waktu penggunaan air purifier minimum yang memberikan penurunan signifikan pada jumlah mikroorganisme sebelum dan setelah penggunaan air purifier adalah 4 jam dengan efisiensi sterilisasi 76,99%. Penggunaan air purifier berbasis teknologi filter HEPA dan Ion-Exchanger diamati dapat menurunkan kelimpahan dan tidak berpengaruh signifikan pada keanekaragaman komunitas mikroorganisme culturable yang ada di sampel udara Laboratorium Kesehatan Daerah Jawa Barat. Mikroorganisme yang diisolasi dari semua sampel didominasi oleh bakteri Bacillus megaterium, Bacillus cereus group, dan Bacillus clausii.