Article Details

ANALISA PERMINTAAN PENUMPANG BANDARA DI BANDARA INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA PADA KONDISI TRAFFIC SHOCK TAHUN 2018-2019

Oleh   Trianto Nugroho [29117038]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Deddy Priatmodjo Koesrindartoto, Ph.D.
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : Magister Bisnis dan Administrasi - Teknologi
Fakultas : Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM)
Subjek : General management
Kata Kunci : aerotropolis, bandara, jumlah penumpang, lalu lintas penumpang, tiket pesawat udara.
Sumber : PT, Angkasa Pura II ( Persero )
Staf Input/Edit : Neng Kartika   Ena Sukmana
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-09-11 09:52:07

PT Angkasa Pura II (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam layanan jasa kebandarudaraan dan jasa terkait lainnya di bagian barat Indonesia. Saat ini, PT AP II mengelola 16 bandara termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bandara Internasional Soekarno-Hatta (IATA: CGK, ICAO: WIII), memiliki pertumbuhan pergerakan pesawat yang signifikan pada tahun 2018. Pada tahun 2018, Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencatat pergerakan pesawat mencapai 463.068 pergerakan, 365.428 dari pergerakan pesawat udara domestik dan 97.640 pergerakan pesawat udara internasional.. Secara umum, pergerakan pesawat pada tahun 2018 tumbuh sebesar 4% dari 2017. Memasuki tahun 2019, kondisi pergerakan penumpang dan pesawat di Bandara Soekarno-Hatta mengalami penurunan dibanding 2018. Data bulanan menunjukkan bahwa penurunan pergerakan pesawat di Bandara Soekarno-Hatta mencapai -18% sedangkan untuk pergerakan penumpang -22%, dibandingkan dengan tahun 2018. Menganalisis demand shock terhadap penumpang pesawat udara untuk mengetahui dampak demand shock dan kaitannya dengan rencana saat ini (pembangunan landasan pacu ke-3) dan hal apa yang harus dilakukan oleh manajemen bandara untuk mengatasi kondisi tersebut. Dengan menggunakan analisis PESTEL, sejak perencanaan dan proyeksi untuk pembangunan landasan pacu ketiga di tahun 2015. Sepanjang 2015 hingga 2018, kesesuaian proyeksi dengan realisasi cenderung tepat bahkan realisasinya melebihi proyeksi pada 2017 dan 2018. Penurunan permintaan dibandingkan dengan proyeksi pembangunan runway ketiga terjadi pada tahun 2019. Mayoritas dimulai dengan adanya kompetisi dari maskapai atas kompetisi harga tiket. Dampak penurunan adalah -15 persen dari realisasi jumlah penumpang yang diproyeksikan selama perencanaan runway ketiga. Implementasi aerotropolis sebagai srategi perusahaan, strategi bisnis dan strategi fungsional di Bandara Soekarno-Hatta. Diperkirakan pada tahun 2025 telah mencapai titik di mana apa yang diproyeksikan selama pembangunan runway ketiga setara dengan proyeksi penumpang ketika menerapkan konsep aerotropolis.