Sektor hilir minyak dan gas Indonesia menghadapi tekanan yang semakin kuat akibat volatilitas pasar minyak mentah dan produk, penurunan margin kilang, risiko pengangkutan dan persediaan, tuntutan transisi energi, serta mandat berkelanjutan untuk menjaga ketahanan energi nasional. Sebelum integrasi, rantai nilai hilir Pertamina dijalankan melalui tiga subholding yang saling bergantung, yaitu PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) untuk kegiatan kilang dan petrokimia, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) untuk kegiatan komersial dan perdagangan, serta PT Pertamina International Shipping (PIS) untuk logistik kelautan terintegrasi. Meskipun spesialisasi tersebut memperjelas tanggung jawab masing-masing entitas, struktur ini juga menciptakan titik-titik serah terima yang menyebabkan perencanaan, insentif, data, dan pengambilan keputusan belum sepenuhnya selaras. Penelitian ini mengkaji bagaimana transformasi hilir terintegrasi dapat mengurangi kebocoran nilai dan meningkatkan kinerja end-to- end Pertamina melalui pendekatan Refinery of the Future.
Tujuan penelitian ini adalah mengusulkan desain transformasi yang menghubungkan operasi kilang, logistik, persediaan, distribusi, dan permintaan pasar dalam satu model operasi yang terkoordinasi. Penelitian ini mengidentifikasi sumber utama kebocoran margin, inefisiensi logistik, ketidakseimbangan persediaan, dan keterlambatan pengambilan keputusan; mengevaluasi kebutuhan model operasi, tata kelola, digitalisasi, dan manajemen kinerja dalam integrasi; serta merumuskan roadmap implementasi yang layak. Proposisi yang mendasari penelitian ini adalah bahwa integrasi secara hukum saja tidak akan menciptakan nilai yang berkelanjutan apabila tidak didukung oleh logika ekonomi bersama, hak pengambilan keputusan yang jelas, perencanaan terintegrasi, visibilitas data yang andal, dan kesiapan organisasi.
Penelitian ini memiliki keterbatasan berupa terbatasnya akses terhadap data transaksi internal yang terperinci, sifat ilustratif dari sebagian interpretasi kuantitatif, serta tidak dilakukannya perancangan ulang teknik secara rinci maupun pengujian kinerja setelah integrasi. Kontribusi penelitian ini terletak pada kontekstualisasi konsep Refinery of the Future sebagai arsitektur bisnis hilir
terintegrasi bagi perusahaan energi milik negara yang harus menyeimbangkan kinerja komersial, kewajiban pelayanan publik, dan ketahanan energi.
Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan metode campuran. Bukti penelitian dikumpulkan dari laporan tahunan perusahaan dan materi internal integrasi, wawancara semi-terstruktur dengan personel senior yang relevan dalam fungsi kilang, logistik, komersial, dan digital, kuesioner terstruktur kepada pekerja dari ketiga subholding, observasi lapangan di Pertamina Digital Hub, serta sejumlah data keuangan dan operasional terpilih. Bukti kualitatif dianalisis secara tematik berdasarkan isu ketidakselarasan, kebocoran margin, inefisiensi logistik, ketidakseimbangan persediaan, fragmentasi digital, tata kelola, dan kapabilitas. Bukti kuantitatif dianalisis secara deskriptif dan dibandingkan dengan temuan kualitatif melalui triangulasi.
Analisis mengidentifikasi lima akar permasalahan yang saling terkait. Pertama, mandat dan struktur insentif berbasis entitas mendorong optimalisasi lokal, bukan penciptaan nilai hilir secara keseluruhan. Kedua, perbedaan ritme perencanaan antara produksi kilang, penjadwalan kapal, persediaan, dan komersialisasi melemahkan sinkronisasi permintaan-pasokan. Ketiga, persediaan terapung, keterbatasan dermaga, risiko demurrage, ketidaksesuaian ukuran muatan dan kapal, serta menurunnya produktivitas kargo terhadap DWT menunjukkan bahwa kinerja logistik dan modal kerja membutuhkan pengendalian terintegrasi. Keempat, kapabilitas digital telah tersedia pada sebagian organisasi, tetapi definisi data bersama, visibilitas lintas fungsi, tata kelola, dan adopsinya belum lengkap. Kelima, profitabilitas tidak merata di sepanjang rantai nilai: KPI membukukan kerugian yang signifikan pada tahun 2024, sementara PPN dan PIS tetap menghasilkan laba, sehingga menunjukkan perlunya pengelolaan margin secara end-to-end. Hasil survei pekerja menunjukkan dukungan yang kuat terhadap integrasi dan manfaat operasional serta logistik yang diharapkan, namun masih terdapat perhatian terhadap perubahan budaya, integrasi teknologi, birokrasi, keterlibatan pekerja, dan pemahaman atas konsep Refinery of the Future.
Berdasarkan temuan tersebut, desain yang diusulkan terdiri atas empat elemen yang saling memperkuat, yaitu model operasi crude-to-customer; tata kelola dan hak pengambilan keputusan yang terpadu; arsitektur KPI terintegrasi; serta downstream command center yang didukung oleh lapisan data single-source-of- truth. Pada tahap awal, command center perlu memprioritaskan sinkronisasi permintaan-pasokan, visibilitas persediaan secara end-to-end, dan profitability cockpit yang menghubungkan faktor penggerak margin dari kilang, pengangkutan, persediaan, dan realisasi pasar. Implementasi direkomendasikan dalam tiga fase, yaitu menstabilkan tata kelola, prioritas data, dan minimum viable product untuk command center; mengintegrasikan rutinitas perencanaan, sistem terpilih, dan tinjauan realisasi nilai; serta melembagakan analitik prediktif, optimalisasi logistik, dan pengembangan kapabilitas. Jalur implementasi ini mendukung sasaran internal integrasi Pertamina berupa potensi peningkatan laba bersih hingga sekitar USD 340 juta pada tahun 2029, dengan tetap bergantung pada keberhasilan pelaksanaan dan validasi lebih lanjut.
Perpustakaan Digital ITB