digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Argetra Halleiny
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Distribusi Banten merupakan salah satu unit distribusi yang dimiliki oleh PT PLN (Persero) sebagai pelaksana pengelolaan pembangkit skala kecil, distribusi, niaga, dan manajemen pelanggan dengan berdasarkan pada kebijakan perseroan dalam jumlah, mutu, dan keandalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Aktivitas ini tidak lepas dengan adanya aktivitas distribusi persediaan yang digunakan untuk menyalurkan energi listrik kepada pelanggan. Nilai persediaan SKTM dan kubikel merupakan nilai persediaan terbesar, yaitu 51% dari total nilai persediaan UID Banten, penumpukan persediaan pada gudang, sertanya adanya urgensi bahwa UID Banten ditunjuk sebagai pilot project implementasi VMI oleh kantor pusat, memerlukan keyakinan pada manajemen bahwa implementasi VMI tepat dilakukan di UID Banten. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rancangan model penilaian kesiapan implementasi VMI, menilai kesiapan implementasi VMI berdasarkan model yang dikembangkan serta strategi terkait fokus prioritas perbaikan kesiapan implementasi VMI. Penelitian ini mengembangkan model penilaian kesiapan implementasi VMI yang dilakukan dengan menilai 4 kriteria dan 24 sub kriteria yang didapat melalui kesapakatan para panel ahli melalui metode Delphi, dan kemudian dilakukan pembobotan dengan menggunakan fuzzy AHP. Bobot masing-masing kriteria utama secara berurutan yaitu Kriteria Karakteristik Perusahaan (K2) 32,45%; Karakteristik Produk (K1) 28,83%; Karakteristik Lingkungan Bisnis (K4) 24,58%; dan Karakteristik Vendor (K3) 17,83%. Berdasarkan hasil penerapan instrumen penilaian terhadap dua vendor pemasok material SKTM dan dua vendor pemasok material kubikel, dihasilkan; skor nilai akhir untuk pada PT ABC, PT BCD, dan PT VWX di atas 75% sehingga dapat direkomendasikan untuk implementasi VMI bersama vendor tersebut, sedangkan skor akhir untuk PT XYZ adalah 74,89% atau berada pada rentang nilai yang dapat dipertimbangkan untuk implementasi VMI. Berdasarkan hasil penilaian kesiapan implementasi VMI, manajemen dapat berfokus pada kesiapan perusahaan dalam melakukan kolaborasi VMI, karena kriteria ini mempunyai bobot tertinggi dalam penilaian kesiapan VMI. Potensi pengembangan yaitu pada tingkat kesediaan/kerelaan baik perusahaan maupun vendor dalam berbagi infomasi dan perlu adanya kewaspadaan terhadap ketidakpastian lingkungan eksternal untuk dapat memaksimalkan tujuan implementasi VMI. Dengan demikian, berdasarkan hasil penilaian, kesiapan perusahaan dalam melakukan kolaborasi VMI merupakan aspek yang perlu menjadi perhatian utama karena memiliki bobot kepentingan tertinggi dalam model penilaian. Prioritas peningkatan diarahkan pada penguatan kesediaan perusahaan dan vendor untuk berbagi informasi serta peningkatan kemampuan dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan eksternal. Temuan tersebut memberikan implikasi bahwa kesiapan kolaborasi dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan merupakan aspek penting yang perlu diperkuat untuk mendukung keberhasilan implementasi VMI.