digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

2026_TS_PP_Tata Sutardi
PUBLIC Open In Flipbook Yose Ali Rahman

Sektor perikanan Indonesia memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pesisir. Namun, kegiatan perikanan skala kecil masih sangat bergantung pada kapal nelayan berbahan bakar diesel yang memperoleh subsidi bahan bakar dari pemerintah. Meskipun subsidi tersebut membantu menjaga keterjangkauan biaya operasional bagi nelayan, kebijakan ini juga menimbulkan tekanan fiskal yang signifikan terhadap anggaran negara, meningkatkan kerentanan nelayan terhadap volatilitas harga bahan bakar, serta berkontribusi terhadap permasalahan lingkungan seperti emisi gas rumah kaca dan pencemaran laut. Sejalan dengan target energi terbarukan nasional dan agenda reformasi subsidi energi, pengembangan infrastruktur stasiun pengisian daya berbasis fotovoltaik surya (PV) untuk perahu nelayan listrik (electric fishing boats/EFB) muncul sebagai alternatif yang menjanjikan. Namun demikian, meskipun kesiapan teknologi sistem PV dan propulsi listrik terus meningkat, implementasi infrastruktur tersebut di Indonesia masih terbatas dan sebagian besar masih berada pada tahap perencanaan atau proyek percontohan. Berbagai proyek juga menghadapi tantangan non-teknis, seperti ketidakjelasan proses bisnis, fragmentasi peran pemangku kepentingan, ketidakpastian mekanisme pendapatan, serta keterbatasan koordinasi kelembagaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menyempurnakan kerangka proses bisnis dalam implementasi stasiun pengisian daya berbasis PV guna mendukung transisi dari kapal nelayan berbahan bakar diesel menuju perahu nelayan listrik. Penelitian ini didasarkan pada premis bahwa kesiapan teknologi saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan adopsi dan keberlanjutan operasional jangka panjang tanpa dukungan pengaturan kelembagaan dan proses operasional yang jelas. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji bagaimana proses bisnis, meliputi pembagian peran pemangku kepentingan, alur operasional, mekanisme penetapan harga, dan struktur tata kelola, dapat mendukung pengembangan ekosistem EFB yang berkelanjutan sekaligus berkontribusi pada pengurangan ketergantungan terhadap subsidi bahan bakar secara bertahap. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus yang didominasi oleh metode kualitatif dengan dukungan analisis kuantitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan utama, termasuk instansi pemerintah, penyedia layanan energi, nelayan, serta perwakilan masyarakat lokal. Data tersebut dilengkapi dengan analisis dokumen dan arsip yang meliputi kebijakan, rencana proyek, dan studi kelayakan yang relevan. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis tematik, pemetaan proses bisnis, serta analisis kesenjangan untuk mengidentifikasi tantangan kelembagaan, operasional, finansial, dan sosial yang berkaitan dengan sistem infrastruktur pengisian daya yang diusulkan. Hasil penelitian memberikan pemahaman terstruktur mengenai bagaimana infrastruktur pengisian daya berbasis PV untuk EFB saat ini direncanakan serta mengidentifikasi sejumlah tantangan utama yang berkaitan dengan kerangka regulasi, perancangan tarif, pembagian tanggung jawab operasional, penerimaan pemangku kepentingan, dan keberlanjutan finansial. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan penyempurnaan kerangka proses bisnis guna meningkatkan koordinasi antarpemangku kepentingan, memperjelas tanggung jawab operasional, serta memperkuat kelayakan finansial infrastruktur pengisian daya. Penyempurnaan tersebut diharapkan dapat mendukung implementasi stasiun pengisian daya berbasis PV secara lebih luas serta mendorong transisi menuju elektrifikasi sektor perikanan yang berkelanjutan di Indonesia.