Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji evolusi kerapatan laju pembentukan
bintang (Star Formation Rate Density, SFRD) di alam semesta melalui analisis
Star Formation Rate (SFR), fungsi luminositas H?, dan diagram BPT
(Baldwin, Phillips & Terlevich) pada berbagai rentang redshift. Data yang
digunakan berasal dari tiga survei besar dengan cakupan redshift yang saling
melengkapi, yaitu JADES (JWST Advanced Deep Extragalactic Survey)
pada rentang 0.62 < z < 6.82, 3D-HST (Hubble Space Telescope) pada rentang
0.01 < z < 5.89, dan SDSS (Sloan Digital Sky Survey) pada rentang
0.00022 < z < 0.39721. Untuk menjaga konsistensi analisis, setiap survei
diwakili oleh satu dataset utama, yaitu JADES Medium Resolution Grating
Spectra GOODS-N, 3D-HST GOODS-N, dan SDSS Starforming.
Nilai SFR dihitung berdasarkan luminositas intrinsik garis emisi H? dengan
menerapkan koreksi atenuasi debu, kemudian digunakan untuk mengonstruksi
fungsi luminositas H? pada berbagai bin redshift menggunakan pendekatan
fungsi Schechter. Fungsi luminositas tersebut selanjutnya diintegrasikan untuk
memperoleh nilai SFRD pada setiap rentang redshift. Diagram BPT berbasis
rasio garis emisi [O III]/H?, [S II]/H?, dan [N II]/H? digunakan untuk mengidentifikasi
mekanisme ionisasi gas dan mengevaluasi kontribusi aktivitas inti
galaksi aktif (AGN).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa SFRD mengalami peningkatan dari
redshift rendah (z = 0.00022) menuju redshift menengah hingga mencapai
puncaknya pada z ? 2.155, kemudian menurun pada redshift yang lebih tinggi.
Hasil ini mendekati studi oleh Madau & Dickinson (2014) yang mendapatkan
puncak SFRD pada redshift z ? 1.9. Nilai SFRD kemudian menurun setelah
puncak sampai redshift mendekati 4. Namun pada redshift z ? 4.236, nilai
SFRD kembali mengalami kenaikan. Akan tetapi, ini masih berada dalam
rentang prediksi model evolusi SFRD yang dijelaskan oleh Hopkins & Beacom
(2006).
Analisis diagram BPT pada berbagai rentang redshift menunjukkan adanya
evolusi sifat ionisasi galaksi yang jelas terhadap redshift. Pada redshift
rendah (0 ? z ? 1.5) yang merepresentasikan alam semesta lokal, distribusi
galaksi pada diagram BPT [S II] dan [N II] masih mengikuti pola klasik alam
semesta lokal. Pola ini mencerminkan kondisi medium antarbintang (ISM)
yang telah berkembang dengan metalisitas relatif tinggi. Pada redshift mevi
nengah (1.5 ? z ? 2.5) yang merepresentasikan masa cosmic noon, galaksi
menunjukkan peningkatan rasio [O III]/H? yang signifikan akibat ionisasi kuat
oleh bintang muda masif. Selain itu, rasio [N II]/H? cenderung meningkat,
yang mengindikasikan tingkat kandungan nitrogen yang melimpah seiring
bertambahnya metalisitas gas. Pada diagram BPT [S II], peningkatan rasio
[S II]/H? juga teramati, yang dapat dikaitkan dengan kontribusi ionisasi dari
gelombang kejut, yang diakibatkan oleh aktivitas supernova atau interaksi
antar galaksi. Sementara itu, pada redshift tinggi (z ? 2.5) yang merepresentasikan
masa awal alam semesta (early universe), galaksi menunjukkan rasio
[O III]/H? yang sangat tinggi sebagai akibat adanya ionisasi oleh bintang masif
panas bermetalisitas rendah (metal-poor) tanpa adanya kontribusi ionisasi
oleh AGN. Namun, rasio [N II]/H? dan [S II]/H? tidak menunjukkan peningkatan
yang signifikan, yang mencerminkan rendahnya metalisitas gas untuk
rasio [N II]/H?, serta kondisi daerah HII yang sangat padat sehingga emisi
[S II] cenderung teredam untuk rasio [S II]/H?.
Perpustakaan Digital ITB