digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Zakia Haura L.F.I
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Unit vertikal seperti apartemen semakin berkembang di lingkungan perkotaan seiring dengan pertumbuhan penduduk. Akan tetapi, desain apartemen sebagai unit vertikal tentunya berbeda dengan desain unit tapak. Tata letak ruang dalam tidak sepenuhnya mendapatkan pencahayaan alami optimal yang merata akibat dari bukaan fasad tunggal. Apartemen sebagai lingkungan fisik menjadi faktor eksternal yang menciptakan lingkungan cahaya yang dapat memengaruhi well-being penghuni. Pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan menjadi stimulus persepsi visual dan respon biologis melaui jalur image forming (IF) dan non-image forming (NIF). Tidak optimalnya pencahayaan alami di dalam ruang dapat disebabkan oleh proporsi jendela yang kurang tepat atau orientasi ruang yang kurang optimal sehingga dapat memengaruhi well-being penghuni. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif terhadap 32 unit dan 37 responden pengukuran lapangan iluminansi horizontal (Eh), iluminansi vertikal (Ev), dan equivalent melanopic lux (EML), simulasi data pencahayaan tahunan (sDA dan ASE), serta survei kesejahteraan (SPANE-B) dan persepsi kenyamanan visual. Hasil menunjukkan bahwa kondisi pencahayaan alami di dalam ruang merupakan kombinasi simultan dari posisi terhadap obstruksi, desain selubung bangunan, orientasi dan layout ruang. EML berhubungan positif dengan keseimbangan SPANE-B, dengan 200 melanopic lux sebagai ambang minimum. Kontribusi penelitian ini adalah pada hubungan stimulus cahaya dengan kesejahteraan penghuni di dalam konteks hunian serta pada perumusan kombinasi parameter desain.