digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Christy Vidiyanti
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Peningkatan penggunaan media belajar digital menambah kompleksitas lingkungan pencahayaan di ruang kelas. Kondisi ini perlu dikaji lebih lanjut terkait efeknya pada siswa. Perkembangan penelitian selama 10 tahun terakhir berfokus pada pencahayaan yang berpusat pada manusia atau Human-centric Lighting (HCL). HCL adalah semua jenis cahaya yang meningkatkan aspek visual, biologis, dan emosional manusia. Penelitian terdahulu di bidang HCL belum banyak yang mengevaluasi melalui pengukuran subjektif dari manusia terutama di fasilitas edukasi. Sehingga penelitian ini penting dilakukan untuk mengisi research gap tersebut. Indikator keberhasilan HCL yaitu peningkatan visual, biologikal, dan emosional digunakan untuk mengungkap visual well-being dari siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membangun teori tentang pengaruh dari faktor lingkungan cahaya dan media belajar terhadap visual well-being berbasis HCL di ruang kelas. Penelitian disertasi ini menggunakan metode eksperimental dengan 24 setting eksperimen yang merupakan kombinasi dari tipe jendela (bukaan samping dan bukaan belakang), bukaan tirai (tirai tertutup, tirai terbuka setengah, dan tirai terbuka penuh), dan jenis media belajar (whiteboard, glassboard, proyektor, dan smart TV). Penelitian ini melibatkan 45 siswa sebagai responden pada ruang kelas tipe bukaan belakang dan 25 siswa pada tipe bukaan samping dengan keseluruhan responden memiliki kronotipe menengah dan refraksi visual normal ataupun telah dikoreksi. Indikator yang akan dinilai pada penelitian ini adalah respons kejelasan visual, kelelahan visual, dan kenyamanan visual. Penelitian ini mengungkap bahwa visual well-being siswa terbentuk melalui interaksi dinamis antara respons kejelasan, kelelahan, dan kenyamanan visual yang saling memengaruhi, dengan kenyamanan visual sebagai faktor yang paling mendominasi visual well-being. Faktor-faktor yang membentuk visual well-being dapat diungkap melalui pemahaman mendalam terhadap respons-respons tersebut. Respons kejelasan visual terbentuk oleh dua indikator, yaitu performa dan persepsi kejelasan visual, yang dipengaruhi oleh kontras tugas, luminans media belajar, serta posisi duduk siswa. Karakteristik teks sebagai faktor yang berhasil diidentifikasi di luar hipotesis, menjadi salah satu faktor dominan dalam membentuk kejelasan visual siswa. Sedangkan kelelahan visual terbentuk dari lingkungan pencahayaan baik pada posisi duduk siswa maupun pada media belajar, faktor risiko flicker dari media belajar, dan efek non-linear dari jarak duduk. Faktor manusia juga berhasil diidentifikasi sebagai faktor yang turut memengaruhi kelelahan visual. Walaupun kelainan refraksi mata telah dikoreksi menggunakan lensa atau kacamata, efeknya tetap signifikan pada kelelahan visual. Persepsi kejelasan visual menjadi faktor kunci yang tidak hanya memengaruhi kenyamanan visual secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung melalui pengurangan kelelahan visual. Selain faktor yang diduga pada hipotesis, penelitian ini juga mengungkap faktor gangguan visual turut memengaruhi respons HCL dan persepsi keseragaman cahaya sebagai faktor yang dominan dalam membentuk kenyamanan visual. Bila kejelasan visual dapat terbentuk dengan menetapkan kontras luminans yang tinggi (dapat dicapai dengan mengatur white luminance dan warna konten), kelelahan visual terjadi akibat ketidakseragaman cahaya pada posisi duduk dan kecerahan bidang tugas. Kecerahan bidang tugas perlu lebih tinggi dibandingkan dengan cahaya pada posisi duduk yang dapat dicapai dengan mengatur white luminance melalui penggunaan luminous device ataupun melalui penambahan luminer pada saat menggunakan non-lit device. Karakteristik lingkungan cahaya di ruang kelas dan media belajar telah berhasil diidentifikasi sebagai faktor yang membentuk visual well-being. Lebih dalam, penelitian ini berhasil mengungkap adanya faktor spasial dan manusia dalam membentuk respons tersebut. Dengan demikian, visual well-being tidak hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan eksternal, tetapi juga dipengaruhi oleh respons individu yang bersifat subjektif dan kompleks. Penelitian ini menekankan pentingnya kesesuaian konfigurasi ruang kelas, persentase bukaan cahaya dan karakteristik media belajar dalam mendukung visual well-being siswa. Hasilnya menunjukkan bahwa non-lit device memerlukan pencahayaan ruang yang cukup, sehingga ruang kelas dengan jendela samping menjadi lebih tepat. Sebaliknya, luminous device (reflected- dan self-lit device) membutuhkan stabilitas luminans layar, sehingga ruang kelas dengan jendela belakang lebih optimal. Proporsi bukaan cahaya diantara 59–64% dari luas dinding fasad interior saat menggunakan luminous device terbukti memberikan kondisi visual well-being terbaik. Sedangkan saat menggunakan non-lit device dibutuhkan bukaan yang lebih besar yaitu 73%. Secara keseluruhan, penggunaan self-lit device terbukti memberikan kondisi optimal melalui high clarity-low fatigue yang akhirnya mampu meningkatkan kenyamanan visual dan mencapai visual well-being. Temuan ini menjadi acuan penting dalam desain ruang kelas yang menyeimbangkan distribusi cahaya dan kesejahteraan visual. Kontribusi ini memberikan dasar teoretis dan praktis bagi perancangan ruang kelas dan ruang sejenis yang lebih adaptif dan mendukung kesehatan visual.