Sisternet merupakan program unggulan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) digital XL Axiata sekaligus platform komunitas yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, dengan membekali perempuan Indonesia literasi digital, dukungan kewirausahaan, dan pembelajaran berbasis komunitas. Meskipun jumlah pendaftaran dan partisipasi acara cukup tinggi, indikator internal menunjukkan adanya “event–habit conversion gap” yang persisten: banyak pengguna mengikuti webinar atau aktivitas offline, tetapi tidak berlanjut menjadi pola penggunaan aplikasi dan fitur yang konsisten. Studi kasus akhir ini bertujuan mengidentifikasi determinan perilaku yang paling kuat memengaruhi continuance intention pengguna Sisternet dan menerjemahkannya menjadi strategi retensi pengguna serta metrik manajerial yang lebih terarah.
Penelitian ini mengintegrasikan kerangka Business Case for CSR dengan Technology Acceptance Model dan Theory of Planned Behaviour. Aksesibilitas, persepsi risiko, persepsi kemudahan penggunaan, persepsi kegunaan, keunggulan relatif, sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku diposisikan sebagai anteseden continuance intention dalam model yang disesuaikan dengan karakteristik platform CSR berbasis mobile. Model tersebut diuji melalui survei kuantitatif eksplanatori kepada pengguna aktif Sisternet dan dilengkapi dengan wawasan kualitatif dari pertanyaan terbuka survei dan ulasan di Google Play Store. Sebanyak 162 respon yang valid dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM), sementara analisis isi tematik dan clustering ulasan digunakan untuk menginterpretasi masukan kualitatif.
Hasil pemodelan struktural menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan proporsi varians yang moderat pada continuance intention dan memperjelas hirarki faktor pendorong retensi pengguna. Aksesibilitas berpengaruh positif kuat terhadap persepsi kemudahan penggunaan, persepsi kegunaan, dan keunggulan relatif, yang menandakan bahwa kemudahan login, navigasi, dan pencapaian fitur kunci secara langsung meningkatkan rasa nilai dan keunikan Sisternet di mata pengguna. Persepsi risiko memiliki pengaruh negatif yang signifikan namun relatif kecil terhadap keunggulan relatif, mengindikasikan perlunya penguatan mekanisme kepercayaan agar keraguan terkait keamanan data, pemenuhan hadiah, atau reliabilitas teknis tidak mengikis manfaat yang dirasakan. Continuance intention secara signifikan dipengaruhi oleh persepsi kemudahan penggunaan, keunggulan relatif, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku, sementara persepsi kegunaan dan sikap tidak terbukti berpengaruh langsung dalam konteks ini.
Temuan kualitatif menguatkan pola tersebut dan memberikan nuansa tambahan. Responden umumnya mengapresiasi relevansi konten, misi, dan kontribusi Sisternet terhadap pemberdayaan perempuan, namun menyoroti friksi pada alur akses, ketidakstabilan sesi, serta ketiadaan jalur pembelajaran yang terstruktur untuk mendorong mereka kembali ke aplikasi. Pengguna juga menginginkan lebih banyak fitur interaktif berbasis komunitas yang memudahkan mereka mempertahankan motivasi. Ulasan Play Store memperlihatkan klaster pengguna yang sangat puas terhadap fitur informasi dan finansial, berdampingan dengan segmen kecil namun vokal yang melaporkan kebingungan navigasi, duplikasi fitur, dan tindak lanjut yang tidak konsisten setelah promo. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa keterlibatan mendalam pada platform CSR lebih bergantung pada pengurangan friksi perilaku dan peningkatan akuntabilitas sosial secara berkelanjutan dibanding hanya pada kualitas konten sesaat.
Berdasarkan hasil empiris tersebut, studi ini mengusulkan strategi tiga pilar untuk meningkatkan retensi pengguna dan pemantauan kinerja Sisternet. Pilar 1, Cost and Risk Reduction, memprioritaskan penyederhanaan akses melalui sesi yang lebih stabil dan opsi masuk alternatif, serta penguatan sistem kepercayaan yang transparan terkait hadiah dan penggunaan data. Pilar 2, Building Competitive Advantage, berfokus pada integrasi mekanisme sosial dan desain micro-learning untuk memanfaatkan norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku sebagai mesin continuance intention. Pilar 3, Reputation and Legitimacy, menggeser pelaporan kinerja dari hitungan event menuju metrik berbasis perilaku seperti hari belajar aktif, tingkat penyelesaian modul, dan penggunaan ulang fitur, sehingga continuance intention menjadi indikator utama keberhasilan dampak CSR. Secara keseluruhan, kasus Sisternet menunjukkan bahwa integrasi teori penerimaan teknologi dan niat perilaku dengan strategi CSR dapat mengubah perhatian yang sporadis menjadi pemberdayaan digital yang berkelanjutan bagi perempuan.
Perpustakaan Digital ITB