digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri hulu minyak dan gas Indonesia memasuki fase kematangan, di mana sumur-sumur tua, persoalan integritas sumur, dan kewajiban plug and abandonment (P&A) menjadi tema operasional yang dominan. Pada periode 2025–2030, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 16.143 aktivitas intervensi sumur dan 2.340 aktivitas P&A, dengan estimasi belanja kumulatif masing-masing sekitar US$616 juta dan US$398 juta, sementara pemerintah menetapkan target produksi minyak sekitar 1.000.000 barel per hari (BOPD) terhadap realisasi sekitar 600.000 BOPD dan menerapkan ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam rentang 55% hingga 75% sesuai Permen ESDM No. 15/2013. Kondisi ini menciptakan peluang sekaligus tantangan bagi perusahaan jasa niche berbasis teknologi seperti Vikingr, perusahaan Skandinavia yang beroperasi di Indonesia melalui anak perusahaannya, PT Vikingr Energi Services (VES). Studi ini menyusun kerangka strategi agar Vikingr mampu memperluas dan mempertahankan pertumbuhannya di pasar well intervention dan P&A Indonesia. Penelitian dirancang sebagai studi kasus tunggal yang bersifat kualitatif dan instrumental, dengan kesimpulan yang dibaca sebagai hipotesis yang dapat digeneralisasi secara analitis untuk tindakan manajerial, bukan temuan yang tervalidasi secara statistik. Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan pengambil keputusan senior di operator; data sekunder bersumber dari laporan industri, publikasi Vikingr, regulasi pemerintah, dan literatur akademik terindeks. Data dianalisis secara tematik melalui kerangka teori inti seperti strategi fokus Porter, resource-based view dan VRIO, teori seleksi pemasok dan relasi B2B, serta Strategy Diamond, dan didukung PESTEL, Porter’s Five Forces, STP, 7P, dan TOWS. Temuan menunjukkan bahwa posisi kompetitif terkuat Vikingr berada pada level pemecahan masalah operasional, dengan menawarkan peralatan well barrier dan P&A spesialis (retrievable bridge plugs, glass plug, HardStone, LiquidResin) untuk aplikasi yang menuntut secara teknis. Ditemukan bahwa kapabilitas teknis saja tidak cukup; kepercayaan dibangun melalui kinerja lapangan terdokumentasi, komunikasi keterbatasan secara transparan, kelengkapan dokumentasi, keterlibatan dini, dan kerapihan proses tender. Risiko terbesar bukan persaingan teknologi langsung dengan kontraktor besar, melainkan kelemahan kesiapan pengiriman, stok dan dukungan lokal, keterlambatan keterlibatan, kekurangan bukti kualifikasi, dan kepatuhan TKDN, meskipun kekuatan kontraktor terintegrasi (bundling, framework MSA, kedalaman konten lokal, dan kemampuan menyerap risiko) tetap menjadi kendala nyata. Strategi yang diusulkan dirumuskan melalui Strategy Diamond: (1) Arena: fokus pada intervensi sumur tua dan kampanye P&A di Indonesia, dengan ekspansi selektif dan bertahap ke completion gas dalam laut melalui komponen niche tersertifikasi; (2) Vehicles: anak perusahaan lokal yang dimiliki sepenuhnya (VES), didukung kemitraan manufaktur/redress lokal terpilih dan kolaborasi (co-opetition) dengan kontraktor terintegrasi untuk lingkup terbundel; (3) Differentiators: peralatan well barrier dan P&A yang fit-for-purpose dengan dokumentasi assurance (“Trust Kit”) dan value engineering yang dikustomisasi per perusahaan; (4) Staging: rencana bertahap Defend–Deepen–Diversify; dan (5) Economic Logic: penetapan harga berbasis nilai dan risiko serta model komersial berbasis hasil. Strategi ini dioperasionalkan melalui rencana implementasi, matriks prioritas impact–feasibility, fokus tiga prioritas pada enam bulan pertama, dan skenario indikatif pengukuran peluang. Kontribusi studi ini bersifat kontekstual dan manajerial, bukan teoretis: menerapkan kerangka strategi baku pada konteks empiris perusahaan niche Indonesia yang masih kurang diteliti dan menghasilkan proposal yang dapat diuji oleh penelitian mendatang.