digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Salman Latif Karimy [27124006]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Kolaborasi desainer grafis freelance dengan pelaku UMKM di Indonesia kerap diwarnai asimetri pengetahuan yang memicu bias valuasi, negosiasi harga timpang, dan benturan ekspektasi berulang. Tanpa panduan/kerangka acuan, desainer freelance menghadapi posisi tawar rentan dan harus menavigasi operasional, negosiasi, serta edukasi klien secara mandiri. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana desainer freelance memaknai dan menegosiasikan valuasi keprofesian melalui pola kerja, reputasi, dan jejaring komunitas; mengidentifikasi taktik negosiasi dan adaptasi komunikasi menghadapi asimetri pengetahuan klien UMKM; serta memahami bagaimana akumulasi kerentanan ekosistem membentuk pemaknaan desainer atas realitas eksistensial profesi dan lintasan kariernya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan metode interpretative phenomenological analysis (IPA), melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap sembilan desainer grafis freelance yang dipilih secara purposive, ditriangulasi dengan artefak visual dan rekam jejak komunikasi digital. Analisis menghasilkan 88 kutipan bermakna, 85 tema kemunculan, dan 8 tema utama. Temuan mengungkapkan tiga hal. Pertama, valuasi bergeser dari akumulasi jam terbang menuju ekuitas reputasi, rekam jejak klien, dan jejaring komunitas; desainer bermodal sosial kuat membentuk konsorsium ad-hoc, sementara desainer daerah mengalami kerentanan ganda akibat keterasingan dari episentrum industri. Kedua, interaksi dengan UMKM memaksa desainer menjadi edukator dadakan tanpa kompensasi, menerapkan taktik translasi asimetri melalui analogi, kecerdasan buatan, dan simulasi mockup; ketika edukasi gagal, desainer mengaktifkan kepasrahan estetika demi keberlangsungan ekonomi. Ketiga, akumulasi kompromi ini memicu krisis identitas profesional berupa dualisme karya "Proyek Pragmatis" versus "Proyek Aktualisasi", normalisasi eksploitasi diri, hingga pergeseran haluan karier menuju akademisi atau inovasi sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa model kolaborasi ideal co-creation belum dapat diterapkan penuh dalam ekosistem freelance informal Indonesia, memperluas pemahaman precarious work melampaui dimensi ekonomi, serta mengonfirmasi pola pembelahan identitas kerja yang sejalan dengan temuan pada konteks pekerja kreatif lain.