Indonesia merupakan negara kepulauan yang rawan bencana, dan kerusakan
infrastruktur jalan akibat bencana kerap menghambat distribusi logistik serta
evakuasi korban di wilayah terdampak. Kendaraan bertonase besar sering tidak
mampu melintasi jalan yang rusak atau terputus, sehingga mobilisasi peralatan dan
kebutuhan logistik menjadi terhambat. Perancangan ini bertujuan menghasilkan
troli dual-mode yang dapat dioperasikan secara manual pada medan sempit dan
terjal serta dapat ditarik sepeda motor ketika jalur masih memungkinkan, guna
mendukung mobilitas logistik tim SAR, BPBD, dan lembaga terkait di wilayah
berinfrastruktur terbatas. Perancangan menggunakan proses berpikir desain dengan
metode kualitatif melalui studi literatur, wawancara, dengan narasumber dari
Wanadri dan BASARNAS sebagai triangulasi data. Kajian lapangan menunjukkan
distribusi logistik berada di bawah klaster Logistik pada fase tanggap darurat dan
pasca bencana, dengan sepeda motor sebagai moda yang realistis untuk medan
terbatas serta muatan yang beragam pada medan berbatu, berlumpur, dan jalan
setapak. Berdasarkan temuan tersebut, perancangan mempertimbangkan regulasi
kereta tambahan kendaraan roda dua, data antropometri pengguna Indonesia, serta
sistem suspensi pasif kombinasi pegas koil dan peredam kejut. Hasil rancangan
berupa troli dual-mode dengan rangka besi berongga, roda pneumatik, suspensi dan
sambungan hitch and coupler ke sepeda motor, yang kemudian diwujudkan menjadi
prototipe. Uji coba prototipe menunjukkan konsep dual-mode dapat diterapkan,
dengan catatan perbaikan pada dimensi, bobot, dan kelengkapan keselamatan untuk
pengembangan selanjutnya.
Perpustakaan Digital ITB