MUNO Coffee menghadapi pertumbuhan revenue yang belum konsisten dan
penerapan promosi bundling yang masih ditentukan secara intuitif melalui
penggabungan produk terlaris dengan minuman termurah serta diskon tetap.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan volume penjualan, tetapi belum menjamin
peningkatan profit yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan merancang kandidat
product bundling berdasarkan pola pembelian konsumen dan menentukan strategi
mixed bundling pricing yang menghasilkan profit terbaik bagi MUNO Coffee.
Penelitian menggunakan data transaksi historis Januari 2024–Maret 2026, data
perubahan harga, dan Cost of Goods Manufactured (COGM) dengan kerangka
CRISP-DM. Association Rule Mining dengan algoritma Apriori digunakan untuk
mengidentifikasi kombinasi produk berdasarkan support, confidence, dan lift.
Sampling dilakukan untuk menguji kestabilan pola, sedangkan elastisitas harga
permintaan digunakan untuk memperkirakan perubahan demand pada berbagai
skenario harga. Selanjutnya, pendekatan valuasi dan probabilitas pilihan konsumen
yang diadaptasi dari Letham dkk. digunakan untuk membandingkan pilihan produk
satuan dan bundle, kemudian setiap skenario dievaluasi menggunakan incremental
profit dengan batas minimum margin 20%.
Hasil penelitian menghasilkan 29 kandidat bundling akhir. Seluruh kandidat
memiliki elastisitas agregat negatif dengan rentang -1,9607 hingga -0,0465. Pada
skenario harga terbaik, probabilitas pemilihan bundle berada pada rentang 32,16%–
63,66%. Sebanyak 28 dari 29 kandidat menghasilkan incremental profit positif,
dengan nilai tertinggi sebesar Rp2.128.074 pada bundle Wonton dan Kentang
Goreng pada harga Rp22.000. Kandidat Nasi Goreng Muno dan Teh tidak
direkomendasikan karena menghasilkan incremental profit negatif sebesar
Rp71.575. Dengan demikian, rancangan ini memberikan dasar berbasis data bagi
MUNO Coffee dalam menentukan kombinasi produk dan harga bundle yang lebih
berorientasi pada peningkatan profit.
Perpustakaan Digital ITB