Perkembangan budaya populer Korea (K-pop) di Indonesia memicu terbentuknya
berbagai komunitas penggemar yang aktif menyelenggarakan kegiatan seperti
acara kumpul sesama penggemar (fans gathering), dance cover, nonton dan
nyanyi bersama, hingga K-market di berbagai daerah di Indonesia terutama
kota-kota besar, termasuk Bandung. Berdasarkan hasil wawancara dengan dua
komunitas penggemar K-pop yang khusus menyelenggarakan acara mengatakan
bahwa minimnya ruang yang dikhususkan untuk penggemar K-pop berkumpul
mengadakan acara. Hasil survei lapangan yang dilakukan pada acara komunitas
penggemar K-pop yaitu Dopamin Market dengan kuesioner secara acak pada
pengunjung yang datang (114 responden) menunjukkan alasan terbanyak
menyukai K-pop untuk hiburan pelarian dari stress sekaligus sumber motivasi
belajar. Namun, masih beredar di kalangan masyarakat Indonesia tentang stereotip
negatif terhadap penggemar K-pop. Oleh karena itu, perancangan pusat
kebudayaan pop Korea diperlukan sebagai sarana hiburan, berkumpul, dan belajar
yang ditujukan tidak hanya untuk penggemar tetapi juga masyarakat awam.
Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan ruang aman (safe space) khusus
untuk orang yang menggemari dan yang tertarik dengan K-pop sebagai tempat
hiburan dan belajar di Bandung dengan pendekatan teori tempat ketiga (third
place theory) yang mana ruang komunitas sebagai “ruang ketiga” di luar rumah
dan sekolah/kerja. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi
fasilitas sejenis, serta survei dan wawancara pada komunitas Extraverse, Dopamin
Market, dan T-Space.
Perpustakaan Digital ITB