digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perkembangan budaya populer Korea (K-pop) di Indonesia memicu terbentuknya berbagai komunitas penggemar yang aktif menyelenggarakan kegiatan seperti acara kumpul sesama penggemar (fans gathering), dance cover, nonton dan nyanyi bersama, hingga K-market di berbagai daerah di Indonesia terutama kota-kota besar, termasuk Bandung. Berdasarkan hasil wawancara dengan dua komunitas penggemar K-pop yang khusus menyelenggarakan acara mengatakan bahwa minimnya ruang yang dikhususkan untuk penggemar K-pop berkumpul mengadakan acara. Hasil survei lapangan yang dilakukan pada acara komunitas penggemar K-pop yaitu Dopamin Market dengan kuesioner secara acak pada pengunjung yang datang (114 responden) menunjukkan alasan terbanyak menyukai K-pop untuk hiburan pelarian dari stress sekaligus sumber motivasi belajar. Namun, masih beredar di kalangan masyarakat Indonesia tentang stereotip negatif terhadap penggemar K-pop. Oleh karena itu, perancangan pusat kebudayaan pop Korea diperlukan sebagai sarana hiburan, berkumpul, dan belajar yang ditujukan tidak hanya untuk penggemar tetapi juga masyarakat awam. Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan ruang aman (safe space) khusus untuk orang yang menggemari dan yang tertarik dengan K-pop sebagai tempat hiburan dan belajar di Bandung dengan pendekatan teori tempat ketiga (third place theory) yang mana ruang komunitas sebagai “ruang ketiga” di luar rumah dan sekolah/kerja. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi fasilitas sejenis, serta survei dan wawancara pada komunitas Extraverse, Dopamin Market, dan T-Space.