Layanan Crisis Management PT Sonar Analitika Indonesia saat ini bergantung
pada mekanisme alert generik bervolume tinggi yang membutuhkan triase manual
secara ekstensif, menciptakan kendala kapasitas yang mengikat pertumbuhan klien
secara langsung terhadap jumlah tenaga analis dan membuat perusahaan belum
memiliki penawaran komersial bertingkat yang terdiferensiasi. Penelitian ini
mengembangkan dan mengevaluasi business case untuk memposisikan ulang
kapabilitas crisis-ready alert perusahaan, yang secara internal dikenal sebagai
Smart Alert, menjadi penawaran layanan bertingkat yang terdiri dari paket
Standard, Premium, dan High-Sensitivity, masing-masing dipetakan ke profil risiko
dan kebutuhan pemantauan klien yang berbeda. Menggunakan simulasi
backtesting pada episode krisis historis dan survei praktisi mengenai faktor
pendorong adopsi serta preferensi performa, penelitian ini mengukur trade-off
antara performa deteksi dan biaya operasional pada sembilan konfigurasi alert,
serta mengintegrasikan temuan tersebut menggunakan Multi-Attribute Utility
Theory (MAUT) dan analisis Pareto frontier untuk merekomendasikan struktur
paket yang menyeimbangkan performa, biaya, dan kesesuaian segmen klien. Selain
rekomendasi paket, penelitian ini mengusulkan rencana implementasi yang
mencakup roadmap peluncuran bertahap, pembagian tanggung jawab lintas
departemen, dan kerangka key performance indicator pasca-peluncuran yang
membedakan komitmen layanan kontraktual dari target tata kelola kualitas
internal. Temuan penelitian ini dimaksudkan untuk mendukung pengambilan
keputusan manajemen terkait pengemasan komersial, penetapan harga, dan
kesiapan organisasi untuk menskalakan lini layanan Crisis Management, sekaligus
memberikan kontribusi metodologis dalam menerjemahkan evaluasi teknis
berbasis simulasi menjadi strategi produk dan implementasi yang siap bisnis.
Perpustakaan Digital ITB