Isu gaya hidup sedentari dan ketergantungan pada kendaraan bermotor menjadi tantangan kesehatan masyarakat global, termasuk di Indonesia. Fenomena ini juga terlihat di Koridor Jababeka II, sebuah kawasan industri strategis di Cikarang yang memiliki keberagaman fungsi lahan (industri, komersial, dan permukiman), namun belum didukung oleh infrastruktur yang memadai bagi pejalan kaki. Keterbatasan fasilitas pedestrian, konektivitas antar-zona yang terputus, serta dominasi kendaraan bermotor menjadikan kawasan ini kurang mendukung mobilitas aktif.
Tesis ini bertujuan untuk merumuskan rancangan pengembangan Koridor Jababeka II dengan pendekatan Active-Living Corridor melalui konsep Pedestrian-Friendly. Metode perancangan yang digunakan adalah Metode Fragmental yang diadopsi dari Shirvani (1985), meliputi pengumpulan data, analisis deskriptif kualitatif, gap analysis untuk mengidentifikasi potensi dan masalah, serta teknik perancangan division by aspect. Hasil perancangan mengusulkan visi “Urban Active Corridor” yang dijabarkan ke dalam empat misi utama: Integrated Mobility (mobilitas terpadu), Pedestrian Safety & Comfort (keamanan dan kenyamanan pejalan kaki), Vibrant Community Hubs (pusat komunitas yang hidup), dan Place Identity (identitas tempat). Rancangan ini mengintegrasikan jalur pedestrian dan pesepeda yang menerus, mengaktifkan ruang publik melalui pocket park dan plaza komunitas, serta menata ulang elemen fisik koridor untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, aman, dan menstimulasi aktivitas fisik sehari-hari bagi pekerja maupun warga sekitar.
Perpustakaan Digital ITB