digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Desta Fatika
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Sumbu merupakan salah satu elemen yang digunakan sebagai dasar dalam perencanaan dan perancangan kota atau kawasan pada masa lalu. Salah satu penerapannya terlihat pada Sumbu Filosofi Yogyakarta. Sumbu tersebut didasari oleh gagasan-gagasan kosmologis dan filosofis terkait kehidupan. Secara fisik, Sumbu Filosofi Yogyakarta diwujudkan melalui struktur ruang ibukotanya, yaitu Kota Yogyakarta. Pada tahun 2023 lalu, Sumbu Filosofi Yogyakarta diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. Hal ini semakin menegaskan pentingnya kawasan sumbu tersebut dalam konteks sejarah, budaya, dan peradaban dunia. Dalam dokumen pengajuan kepada UNESCO, Sumbu Filosofi Yogyakarta dibagi menjadi tiga bagian kawasan, yaitu Utara, Tengah, dan Selatan. Diantara ketiganya, Sumbu Filosofi Yogyakarta bagian Selatan merupakan kawasan yang upaya pelestarian serta pengelolaannya belum terlihat secara signifikan. Kawasan ini juga belum memiliki arahan perancangan yang disesuaikan dengan konteks lokal kawasan. Arahan perancangan tersebut diperlukan untuk merencanakan pengembangan kawasan agar dapat menjaga keaslian dan keutuhan kawasan maupun nilai filosofi, dalam menghadapi dinamika perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan merumuskan prinsip-prinsip perancangan yang dapat menjadi acuan pengembangan zona inti dan penyangga Sumbu Filosofi bagian Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat eksploratif dengan pendekatan abduktif melalui studi kasus. Kajian diawali dengan studi literatur yang mencakup regulasi, dokumen, teori, maupun literatur terkait lainnya. Studi literatur tersebut memberikan kerangka konseptual prinsip perancangan kawasan sumbu dalam konteks warisan budaya dunia, serta makna dan peran Sumbu Filosofi Yogyakarta. Selanjutnya analisis visual-spasial dilakukan melalui observasi lapangan untuk mengetahui kondisi eksisting kawasan. Selain itu, analisis isi dengan bantuan coding dilakukan terhadap hasil wawancara dengan para ahli, baik akademisi, praktisi, maupun pemangku kepentingan lokal. Analisis tersebut dilakukan agar dapat menggali lebih dalam perspektif ahli mengenai kawasan studi. Kajian-kajian tersebut menghasilkan potensi dan persoalan kawasan yang kemudian diturunkan ke dalam kriteria perancangan. Kriteria-kriteria tersebut menjadi dasar dalam perumusan prinsip perancangan kawasan studi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 5 (lima) prinsip perancangan yang dapat diterapkan pada zona inti dan penyangga Sumbu Filosofi Yogyakarta bagian Selatan, yaitu contextualism, legibility, continuity, street vitality, dan heritage integration. Contextualism menekankan pada pentingnya mempertimbangkan konteks kawasan dari berbagai aspek. Legibility mendorong munculnya karakter khas kawasan. Continuity merupakan prinsip kemenerusan yang utamanya mendukung perwujudan elemen sumbu. Street vitality merupakan prinsip yang menanggapi prinsip-prinsip sebelumnya dengan menyesuaikan konteks kawasan studi. Prinsip tersebut diwujudkan dengan menghidupkan ruang jalan. Sedangkan heritage-responsiveness merupakan prinsip yang tidak terpisahkan untuk menjaga nilai-nilai penting kawasan cagar budaya. Meskipun memiliki tujuannya masing-masing, prinsip-prinsip tersebut saling berkaitan dan dapat berwujud secara fisik maupun non-fisik. Sebagai arahan perancangan, kelima prinsip tersebut diharapkan dapat melindungi nilai-nilai penting yang ada serta menjawab tantangan pembangunan secara berkelanjutan. Prinsip-prinsip tersebut bukan hanya berkontrubusi dalam pelindungan terhadap Sumbu Filosofi Yogyakarta bagian Selatan, namun juga menjadi wawasan yang lebih luas terhadap pengintegrasian nilai-nilai warisan budaya pada praktik rancang kota.