digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Medina Savira
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 1 Medina Savira
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 2 Medina Savira
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 3 Medina Savira
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 4 Medina Savira
EMBARGO  2029-01-14 

BAB 5 Medina Savira
EMBARGO  2029-01-14 

BAB 6 Medina Savira
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

Membedakan motif kewirausahaan ke dalam kategori berbasis kebutuhan versus berbasis peluang, yang seringkali digambarkan dalam kerangka hitam-putih seperti perkotaan versus perdesaan atau negara-negara maju versus negaranegara berkembang, berisiko menyederhanakan kompleksitas kewirausahaan di wilayah perdesaan. Kewirausahaan dalam konteks perdesaan tidak dapat sematamata mereplikasi konsep-konsep yang muncul dalam pembangunan daerah sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi karena adanya perbedaan kekhususan kontekstual. Hal ini mengarah pada perlunya pendekatan yang lebih spesifik yang mengakui keragaman lintasan dan lokasi. Perlu ditekankan keterkaitan antara agensi individu dan kolektif dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia, yang mengarah pada pemahaman baru mengenai motivasi dan orientasi kewirausahaan di wilayah perdesaan. Konteks kewirausahaan perdesaan yang berbeda dan motivasinya memengaruhi agensi individu dalam memobilisasi sumber daya, termasuk faktor endogen dan eksogen, serta mengintegrasikan pengaruh eksternal dari adopsi teknologi digital. Studi ini menginterpretasikan teknologi digital sebagai sumber daya eksternal yang dapat dikelola oleh komunitas lokal untuk memanfaatkan berbagai sumber daya endogen dalam kewirausahaan perdesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan, "Bagaimana wirausahawan perdesaan menavigasi inovasi dan digitalisasi dalam berbagai konteks sosial, budaya, dan ekonomi?". Disertasi ini akan mencakup empat subtopik: 1) inovasi dan kesejahteraan dalam kewirausahaan masyarakat adat (indigenous communities), 2) motivasi kewirausahaan perdesaan dan adopsi digital, 3) keterlibatan digital dan dinamika komunitas, dan 4) rekontekstualisasi keterlibatan digital di kalangan petani. Dengan mengkombinasikan dua lensa analitis, Pembangunan Neo-endogen (Neoendogenous Development) dan Pendekatan Kapabilitas (Capability Approach), penelitian ini menjelaskan perbedaan dalam cara komunitas lokal merespons dan menavigasi inovasi non-digital maupun digital. Perbedaan tingkat penyerapan sumber daya eksogen dibentuk oleh interelasi antara agensi individu dan kolektif dalam membuat pilihan digital dan inovasi. Kemampuan para wirausahawan, baikiv di tingkat individu maupun kolektif, dalam memanfaatkan teknologi digital secara bermakna dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, spasial, kebudayaan, dan kelembagaan. Dengan menggunakan dua lensa analitis, Pembangunan Neoendogen (NED) dan Pendekatan Kapabilitas (CA), penelitian ini menjelaskan perbedaan dalam cara masyarakat lokal merespons dan menavigasi inovasi nondigital maupun digital, yang memperlihatkan berbagai tingkat pemanfaatan sumber daya eksogen yang bermakna. Disertasi ini mengusulkan bahwa memahami bagaimana kewirausahaan berlangsung dalam konteks perdesaan harus mempertimbangkan dua aspek kunci: 1) berbagai konteks sosio-spasial yang membangun nilai dan motif di balik kegiatan kewirausahaan; 2) agensi di tingkat individu dan komunitas, yang menekankan kemampuan wirausahawan untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Proses ini membantu menentukan sejauh mana pengusaha memanfaatkan sumber daya endogen dan eksogen secara bermakna. Lebih lanjut, hal ini juga mengarah pada pemahaman yang bernuansa tentang bagaimana agensi individu dan kekhususan sumber daya saling terkait, yang mencakup pilihan untuk berinovasi dan penggunaan teknologi digital, yang memengaruhi perkembangan kewirausahaan perdesaan. Temuannya adalah bahwa tingkat penyerapan sumber daya eksogen yang berbeda dibentuk oleh interelasi antara agensi individu dan kolektif dalam membuat pilihan digital dan inovasi. Agensi wirausahawan, baik di tingkat individu maupun kolektif, dalam memanfaatkan teknologi digital secara bermakna dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, spasial, budaya, dan kelembagaan. Karakteristik spesifik sumber daya memiliki dampak terhadap motivasi menjalankan kegiatan kewirausahaan perdesaan, dan bagaimana mereka memanfaatkan sumber daya eksogen secara bermakna. Karakteristik ini memiliki beragam dampak pada agensi, dan kesamaan yang nyata dapat diamati dalam berbagai kasus. Wirausahawan yang memanfaatkan sumber daya budaya dan warisan cenderung memiliki keterbatasan dalam membuat pilihan digital dan inovasi. Sebaliknya, wirausahawan yang memanfaatkan sumber daya fisik, yang tidak terikat pada nilai dan norma budaya tertentu, memiliki agensi yang lebih besar dalam menggunakan sumber daya eksogen, yang dibuktikan dengan tingkat keterlibatan digital yang lebih tinggi. Dinamika komunitas penting dalam menjelaskan perbedaan antar kasus, seiring dengan kompleksitas dinamika tingkat kolektif yang memengaruhi pilihan individu. Individu yang lebih dekat dengan sistem sosial, yang dicontohkan dalam tesis ini sebagai komunitas adat (indigenous communities) dan pariwisata, memiliki agensi yang lebih besar dalam membuat inovasi dan pilihan digital. Namun, pola yang kontras diamati di antara asosiasi petani. Individu di luar asosiasi memiliki agensi yang lebih besar dalam membuat pilihan digital, sementara mereka yang berada di dalam asosiasi memiliki agensi yang lebih kecil. Dinamika komunitas penting dalam menjelaskan perbedaan antar kasus, karena mencerminkan dinamika tingkat kolektif yang kompleks yang memengaruhi agensi wirausahawan yang berbeda dalam membuat inovasi dan pilihan digital.v Kedekatan dengan sistem sosial dapat mempercepat laju adopsi teknologi digital. Akan tetapi, hal ini tidak secara otomatis memastikan individu terlibat dengan teknologi digital. Disertasi ini mengungkapkan bahwa individu yang terinklusi secara sosial belum tentu terinklusi secara digital, dan mereka yang tereksklusi secara sosial belum tentu tereksklusi secara digital. Individu yang secara sosial terlibat dalam usaha komunitas mungkin tidak terhubung secara sosial dan digital dengan jaringan tempat sumber daya eksternal mengalir dan menyebar, sehingga menghasilkan peluang kewirausahaan yang berbeda. Penjaga gerbang (gatekeeper) memainkan peran penting dalam mengelola sejauh mana pengaruh eksternal dapat masuk, memungkinkan komunitas lokal untuk terlibat dengan jaringan yang lebih luas. Ketika nilai-nilai lokal dan budaya tidak berakar dalam masyarakat, dan motivasi untuk terlibat dalam kegiatan kewirausahaan tidak terfokus pada tujuan kolektif, hal itu memengaruhi hubungan timbal balik antara agensi individu dan kolektif. Keterbatasan ini menghalangi peluang untuk inovasi dan keterlibatan digital yang bermakna. Penelitian di masa mendatang tentang interaksi antara sumber daya endogen dan eksogen di negara-negara lain di belahan bumi selatan akan membantu untuk lebih memahami beragam jalur pembangunan, baik di dalam maupun antarwilayah.