BAB 4 Medina Savira
EMBARGO  2029-01-14 
EMBARGO  2029-01-14 
BAB 5 Medina Savira
EMBARGO  2029-01-14 
EMBARGO  2029-01-14 
Membedakan motif kewirausahaan ke dalam kategori berbasis kebutuhan versus
berbasis peluang, yang seringkali digambarkan dalam kerangka hitam-putih
seperti perkotaan versus perdesaan atau negara-negara maju versus negaranegara berkembang, berisiko menyederhanakan kompleksitas kewirausahaan di
wilayah perdesaan. Kewirausahaan dalam konteks perdesaan tidak dapat sematamata mereplikasi konsep-konsep yang muncul dalam pembangunan daerah sebagai
pendorong pertumbuhan ekonomi karena adanya perbedaan kekhususan
kontekstual. Hal ini mengarah pada perlunya pendekatan yang lebih spesifik yang
mengakui keragaman lintasan dan lokasi. Perlu ditekankan keterkaitan antara
agensi individu dan kolektif dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia, yang
mengarah pada pemahaman baru mengenai motivasi dan orientasi kewirausahaan
di wilayah perdesaan.
Konteks kewirausahaan perdesaan yang berbeda dan motivasinya memengaruhi
agensi individu dalam memobilisasi sumber daya, termasuk faktor endogen dan
eksogen, serta mengintegrasikan pengaruh eksternal dari adopsi teknologi digital.
Studi ini menginterpretasikan teknologi digital sebagai sumber daya eksternal yang
dapat dikelola oleh komunitas lokal untuk memanfaatkan berbagai sumber daya
endogen dalam kewirausahaan perdesaan. Penelitian ini bertujuan untuk
menjawab pertanyaan, "Bagaimana wirausahawan perdesaan menavigasi inovasi
dan digitalisasi dalam berbagai konteks sosial, budaya, dan ekonomi?". Disertasi
ini akan mencakup empat subtopik: 1) inovasi dan kesejahteraan dalam
kewirausahaan masyarakat adat (indigenous communities), 2) motivasi
kewirausahaan perdesaan dan adopsi digital, 3) keterlibatan digital dan dinamika
komunitas, dan 4) rekontekstualisasi keterlibatan digital di kalangan petani.
Dengan mengkombinasikan dua lensa analitis, Pembangunan Neo-endogen (Neoendogenous Development) dan Pendekatan Kapabilitas (Capability Approach),
penelitian ini menjelaskan perbedaan dalam cara komunitas lokal merespons dan
menavigasi inovasi non-digital maupun digital. Perbedaan tingkat penyerapan
sumber daya eksogen dibentuk oleh interelasi antara agensi individu dan kolektif
dalam membuat pilihan digital dan inovasi. Kemampuan para wirausahawan, baikiv
di tingkat individu maupun kolektif, dalam memanfaatkan teknologi digital secara
bermakna dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, spasial, kebudayaan, dan
kelembagaan. Dengan menggunakan dua lensa analitis, Pembangunan Neoendogen (NED) dan Pendekatan Kapabilitas (CA), penelitian ini menjelaskan
perbedaan dalam cara masyarakat lokal merespons dan menavigasi inovasi nondigital maupun digital, yang memperlihatkan berbagai tingkat pemanfaatan
sumber daya eksogen yang bermakna.
Disertasi ini mengusulkan bahwa memahami bagaimana kewirausahaan
berlangsung dalam konteks perdesaan harus mempertimbangkan dua aspek kunci:
1) berbagai konteks sosio-spasial yang membangun nilai dan motif di balik
kegiatan kewirausahaan; 2) agensi di tingkat individu dan komunitas, yang
menekankan kemampuan wirausahawan untuk memanfaatkan sumber daya yang
tersedia. Proses ini membantu menentukan sejauh mana pengusaha memanfaatkan
sumber daya endogen dan eksogen secara bermakna. Lebih lanjut, hal ini juga
mengarah pada pemahaman yang bernuansa tentang bagaimana agensi individu
dan kekhususan sumber daya saling terkait, yang mencakup pilihan untuk
berinovasi dan penggunaan teknologi digital, yang memengaruhi perkembangan
kewirausahaan perdesaan. Temuannya adalah bahwa tingkat penyerapan sumber
daya eksogen yang berbeda dibentuk oleh interelasi antara agensi individu dan
kolektif dalam membuat pilihan digital dan inovasi. Agensi wirausahawan, baik di
tingkat individu maupun kolektif, dalam memanfaatkan teknologi digital secara
bermakna dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, spasial, budaya, dan
kelembagaan.
Karakteristik spesifik sumber daya memiliki dampak terhadap motivasi
menjalankan kegiatan kewirausahaan perdesaan, dan bagaimana mereka
memanfaatkan sumber daya eksogen secara bermakna. Karakteristik ini memiliki
beragam dampak pada agensi, dan kesamaan yang nyata dapat diamati dalam
berbagai kasus. Wirausahawan yang memanfaatkan sumber daya budaya dan
warisan cenderung memiliki keterbatasan dalam membuat pilihan digital dan
inovasi. Sebaliknya, wirausahawan yang memanfaatkan sumber daya fisik, yang
tidak terikat pada nilai dan norma budaya tertentu, memiliki agensi yang lebih
besar dalam menggunakan sumber daya eksogen, yang dibuktikan dengan tingkat
keterlibatan digital yang lebih tinggi. Dinamika komunitas penting dalam
menjelaskan perbedaan antar kasus, seiring dengan kompleksitas dinamika tingkat
kolektif yang memengaruhi pilihan individu. Individu yang lebih dekat dengan
sistem sosial, yang dicontohkan dalam tesis ini sebagai komunitas adat (indigenous
communities) dan pariwisata, memiliki agensi yang lebih besar dalam membuat
inovasi dan pilihan digital. Namun, pola yang kontras diamati di antara asosiasi
petani. Individu di luar asosiasi memiliki agensi yang lebih besar dalam membuat
pilihan digital, sementara mereka yang berada di dalam asosiasi memiliki agensi
yang lebih kecil. Dinamika komunitas penting dalam menjelaskan perbedaan antar
kasus, karena mencerminkan dinamika tingkat kolektif yang kompleks yang
memengaruhi agensi wirausahawan yang berbeda dalam membuat inovasi dan
pilihan digital.v
Kedekatan dengan sistem sosial dapat mempercepat laju adopsi teknologi digital.
Akan tetapi, hal ini tidak secara otomatis memastikan individu terlibat dengan
teknologi digital. Disertasi ini mengungkapkan bahwa individu yang terinklusi
secara sosial belum tentu terinklusi secara digital, dan mereka yang tereksklusi
secara sosial belum tentu tereksklusi secara digital. Individu yang secara sosial
terlibat dalam usaha komunitas mungkin tidak terhubung secara sosial dan digital
dengan jaringan tempat sumber daya eksternal mengalir dan menyebar, sehingga
menghasilkan peluang kewirausahaan yang berbeda. Penjaga gerbang
(gatekeeper) memainkan peran penting dalam mengelola sejauh mana pengaruh
eksternal dapat masuk, memungkinkan komunitas lokal untuk terlibat dengan
jaringan yang lebih luas. Ketika nilai-nilai lokal dan budaya tidak berakar dalam
masyarakat, dan motivasi untuk terlibat dalam kegiatan kewirausahaan tidak
terfokus pada tujuan kolektif, hal itu memengaruhi hubungan timbal balik antara
agensi individu dan kolektif. Keterbatasan ini menghalangi peluang untuk inovasi
dan keterlibatan digital yang bermakna. Penelitian di masa mendatang tentang
interaksi antara sumber daya endogen dan eksogen di negara-negara lain di
belahan bumi selatan akan membantu untuk lebih memahami beragam jalur
pembangunan, baik di dalam maupun antarwilayah.
Perpustakaan Digital ITB