digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Permasalahan sampah menjadi isu yang semakin kompleks seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, khususnya di kawasan strategis yang berfungsi sebagai kawasan pendidikan seperti di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang yang memiliki berbagai perguruan tinggi utama seperti IKOPIN, IPDN, UNPAD, dan ITB. Hal ini menuntut adanya sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pendekatan gamifikasi hadir menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah yang dapat mendukung perwujudan ekonomi sirkular sekaligus kota cerdas pada pilar lingkungan. Gamifikasi merupakan penerapan elemen permainan di luar aktivitas non permainan yang berguna untuk mendorong motivasi dan keterlibatan individu dalam suatu kegiatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi penerapan metode pengelolaan sampah berbasis digital dengan pendekatan gamifikasi berdasarkan persepsi dan preferensi masyarakat di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi kuantitatif dan kualitatif (mix method) sebagai pendekatannya. Metode pengumpulan data pada penelitian ini yaitu penyebaran kuesioner, wawancara, serta observasi. Metode analisisnya meliputi statistik deskriptif tabulasi silang, uji chi square, serta uji korelasi koefisien kontingensi. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kondisi sosial ekonomi di Kecamatan Jatinangor didominasi oleh kelompok usia 39-49 tahun dengan dominasi respondennya berjenis kelamin perempuan. Tingkat pendidikan terakhir respoden didominasi oleh SMA/SMK/sederajat, sedangkan jenis pekerjaannya didominasi oleh wiraswasta. Apabila dilihat dari jumlah pendapatan diketahui bahwa sebagian besar responden masih memiliki upah di bawah UMK Kabupaten Sumedang dan dilihat dari jumlah pengeluaran tergolong masyarakat Menuju Kelas Menengah. Hasil analisis kondisi pengelolaan sampah di Kecamatan Jatinangor menunjukkan bahwa pengelolaan sampah eksisting masih mengandalkan metode konvensionalii dengan cara membakar sampah maupun menyetorkan sampah kepada petugas pengangkutan. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis pengaruh kondisi sosial ekonomi terhadap persepsi pengelolaan sampah diketahui bahwa tingkat pendidikan membuktikan adanya hubungan paling signifikan terhadap variabel persepsi berdasarkan sikap, kepentingan, serta pengalaman. Hal ini mengonfirmasi bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, maka sikapnya akan semakin baik juga terhadap pengelolaan sampah. Pada hasil analisis lainnya diketahui bahwa terdapat potensi penerapan metode pengelolaan sampah berbasis digital dengan pendekatan gamifikasi berdasarkan persepsi dan preferensi masyarakat di Kecamatan Jatinangor. Kondisi tersebut tercermin dari preferensi responden sebesar 56% dalam memilih metode pengelolaan sampah berbasis digital melalui penyetoran sampah menggunakan aplikasi. Selain itu, potensi penerapan metode pengelolaan sampah berbasis digital ini memiliki dukungan yang kuat dari Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Desa untuk dikembangkan karena akan membantu mewujudkan penerapan kota cerdas di Kabupaten Sumedang, khususnya Kecamatan Jatinangor sebagai bagian dari kawasan pendidikan. Secara keseluruhan penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam terkait persepsi dan preferensi masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui pendekatan gamifikasi. Dalam menerapkan konsep tersebut, maka dibutuhkan kerja sama antar pemangku kepentingan untuk mewujudkan lingkungan hidup yang berkelanjutan dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.