Permasalahan sampah menjadi isu yang semakin kompleks seiring dengan
pertumbuhan jumlah penduduk, khususnya di kawasan strategis yang berfungsi
sebagai kawasan pendidikan seperti di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten
Sumedang yang memiliki berbagai perguruan tinggi utama seperti IKOPIN, IPDN,
UNPAD, dan ITB. Hal ini menuntut adanya sistem pengelolaan sampah yang lebih
berkelanjutan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pendekatan
gamifikasi hadir menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah yang dapat
mendukung perwujudan ekonomi sirkular sekaligus kota cerdas pada pilar
lingkungan. Gamifikasi merupakan penerapan elemen permainan di luar aktivitas
non permainan yang berguna untuk mendorong motivasi dan keterlibatan individu
dalam suatu kegiatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi
penerapan metode pengelolaan sampah berbasis digital dengan pendekatan
gamifikasi berdasarkan persepsi dan preferensi masyarakat di Kecamatan
Jatinangor, Kabupaten Sumedang.
Penelitian ini menggunakan metode kombinasi kuantitatif dan kualitatif (mix
method) sebagai pendekatannya. Metode pengumpulan data pada penelitian ini
yaitu penyebaran kuesioner, wawancara, serta observasi. Metode analisisnya
meliputi statistik deskriptif tabulasi silang, uji chi square, serta uji korelasi koefisien
kontingensi. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kondisi sosial ekonomi di
Kecamatan Jatinangor didominasi oleh kelompok usia 39-49 tahun dengan
dominasi respondennya berjenis kelamin perempuan. Tingkat pendidikan terakhir
respoden didominasi oleh SMA/SMK/sederajat, sedangkan jenis pekerjaannya
didominasi oleh wiraswasta. Apabila dilihat dari jumlah pendapatan diketahui
bahwa sebagian besar responden masih memiliki upah di bawah UMK Kabupaten
Sumedang dan dilihat dari jumlah pengeluaran tergolong masyarakat Menuju Kelas
Menengah.
Hasil analisis kondisi pengelolaan sampah di Kecamatan Jatinangor menunjukkan
bahwa pengelolaan sampah eksisting masih mengandalkan metode konvensionalii
dengan cara membakar sampah maupun menyetorkan sampah kepada petugas
pengangkutan. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis pengaruh kondisi sosial
ekonomi terhadap persepsi pengelolaan sampah diketahui bahwa tingkat
pendidikan membuktikan adanya hubungan paling signifikan terhadap variabel
persepsi berdasarkan sikap, kepentingan, serta pengalaman. Hal ini mengonfirmasi
bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, maka sikapnya akan semakin baik juga
terhadap pengelolaan sampah.
Pada hasil analisis lainnya diketahui bahwa terdapat potensi penerapan metode
pengelolaan sampah berbasis digital dengan pendekatan gamifikasi berdasarkan
persepsi dan preferensi masyarakat di Kecamatan Jatinangor. Kondisi tersebut
tercermin dari preferensi responden sebesar 56% dalam memilih metode
pengelolaan sampah berbasis digital melalui penyetoran sampah menggunakan
aplikasi. Selain itu, potensi penerapan metode pengelolaan sampah berbasis digital
ini memiliki dukungan yang kuat dari Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Desa
untuk dikembangkan karena akan membantu mewujudkan penerapan kota cerdas
di Kabupaten Sumedang, khususnya Kecamatan Jatinangor sebagai bagian dari
kawasan pendidikan. Secara keseluruhan penelitian ini memberikan pemahaman
yang lebih mendalam terkait persepsi dan preferensi masyarakat dalam pengelolaan
sampah melalui pendekatan gamifikasi. Dalam menerapkan konsep tersebut, maka
dibutuhkan kerja sama antar pemangku kepentingan untuk mewujudkan lingkungan
hidup yang berkelanjutan dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Perpustakaan Digital ITB