Digitalisasi merupakan megatren global yang membuka peluang bagi
pembangunan perdesaan, terutama dalam mengatasi keterbatasan geografis dan
ketimpangan informasi. Namun, digitalisasi juga memunculkan tantangan berupa
kesenjangan dan eksklusi digital, sehingga hubungan antara inklusi digital dan
modal sosial masih menunjukkan pola yang belum jelas. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode single case study di Desa
Cangkingan, Kabupaten Indramayu, untuk menganalisis hubungan antara inklusi
digital dan modal sosial secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan adanya
potensi kesenjangan digital tingkat kedua, di mana akses digital relatif telah
terpenuhi, tetapi rendahnya keterampilan dan literasi digital, khususnya pada
kelompok lansia, memicu risiko eksklusi digital. Analisis lebih lanjut mengungkap
adanya hubungan timbal balik antara inklusi digital dan modal sosial. Modal sosial
bonding mengalami transformasi menjadi adaptive bonding melalui praktik saling
mengajari akibat kesenjangan keterampilan digital. Modal sosial bridging dan
linking juga mengalami penguatan melalui terbukanya peluang, perluasan jejaring,
transformasi kepercayaan menjadi reputasi digital, serta peningkatan transparansi
dan komunikasi dengan pemerintah desa. Temuan ini membuktikan bahwa modal
sosial berperan sebagai faktor pendorong sekaligus konsekuensi dari inklusi digital,
serta memberikan kontribusi empiris bagi perumusan kebijakan digitalisasi desa
yang berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB