digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Digitalisasi merupakan megatren global yang membuka peluang bagi pembangunan perdesaan, terutama dalam mengatasi keterbatasan geografis dan ketimpangan informasi. Namun, digitalisasi juga memunculkan tantangan berupa kesenjangan dan eksklusi digital, sehingga hubungan antara inklusi digital dan modal sosial masih menunjukkan pola yang belum jelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode single case study di Desa Cangkingan, Kabupaten Indramayu, untuk menganalisis hubungan antara inklusi digital dan modal sosial secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi kesenjangan digital tingkat kedua, di mana akses digital relatif telah terpenuhi, tetapi rendahnya keterampilan dan literasi digital, khususnya pada kelompok lansia, memicu risiko eksklusi digital. Analisis lebih lanjut mengungkap adanya hubungan timbal balik antara inklusi digital dan modal sosial. Modal sosial bonding mengalami transformasi menjadi adaptive bonding melalui praktik saling mengajari akibat kesenjangan keterampilan digital. Modal sosial bridging dan linking juga mengalami penguatan melalui terbukanya peluang, perluasan jejaring, transformasi kepercayaan menjadi reputasi digital, serta peningkatan transparansi dan komunikasi dengan pemerintah desa. Temuan ini membuktikan bahwa modal sosial berperan sebagai faktor pendorong sekaligus konsekuensi dari inklusi digital, serta memberikan kontribusi empiris bagi perumusan kebijakan digitalisasi desa yang berkelanjutan.