Kehidupan urban Kota Bandung menyimpan lanskap visual dan sosial yang kaya, mulai
dari mural, graffiti, dan signage jalanan hingga dinamika keseharian warganya, namun
kompleksitas ini jarang tersampaikan secara utuh melalui media pendidikan formal yang
cenderung teoretis. Generasi Z, sebagai digital native, terbukti lebih responsif terhadap
media interaktif berbasis pengalaman langsung dibandingkan pendekatan kognitif
konvensional. Penelitian ini mengeksplorasi potensi video game naratif sebagai medium
untuk menghadirkan pengalaman kehidupan urban Bandung secara autentik sekaligus
menumbuhkan empati sosial pemain terhadap kompleksitas kota dan manusia-manusia
yang menghuninya. Perancangan ini mengintegrasikan empat kerangka teoretis:
Semiotika Visual Urban untuk membaca elemen visual kota sebagai sistem tanda,
Inkorporasi (Calleja, 2011) untuk menjelaskan proses internalisasi pemain terhadap dunia
game, Desain Afektif untuk merancang kualitas emosional pengalaman visual, dan Desain
Game Empatik (Belman & Flanagan, 2010) untuk mengarahkan empati sebagai outcome
yang dituju secara eksplisit. Metode penelitian bersifat kualitatif, meliputi observasi
lapangan, studi literatur, wawancara dengan narasumber ahli industri video game,
wawancara dan Focus Group Discussion dengan mahasiswa Generasi Z, serta analisis
komparatif terhadap video game naratif relevan seperti Coffee Talk, Night in the Woods,
dan Disco Elysium. Hasil penelitian berupa prototipe video game naratif 2D side-scroller
yang dapat dimainkan, menghadirkan dunia fiksi berbasis Bandung melalui eksplorasi
lingkungan, interaksi karakter, dan sistem naratif yang mengintegrasikan visualitas urban
sebagai sistem tanda bermakna, untuk mendorong refleksi dan empati sosial pemain
melalui pengalaman bermain yang imersif.
Perpustakaan Digital ITB