Dominasi komunikasi verbal di masyarakat sering kali meminggirkan interaksi
non-verbal, sehingga memicu kesenjangan empati antara anak dengar dan
komunitas Tuli. Kurangnya pemahaman anak dengar mengenai bahasa isyarat turut
menghambat terbentuknya hubungan sosial yang inklusif sejak usia dini. Untuk
mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan merancang board game
sebagai media sosialisasi guna menormalisasikan penggunaan bahasa isyarat dan
membangun persepsi kesetaraan komunikasi bagi anak dengar usia 8-10 tahun.
Metode perancangan menggunakan kerangka kerja Double Diamond yang
diintegrasikan dengan pendekatan Design, Dynamics, Experience (DDE)
Framework untuk menciptakan ruang simulasi bermain yang aman. Evaluasi data
kualitatif dilakukan melalui observasi partisipatif saat uji coba dan divalidasi
melalui wawancara mendalam bersama guru kelas. Hasil penelitian ini berupa
board game "Ssszoo...!!!", sebuah permainan sosial kooperatif yang mengadopsi
mekanika informasi asimetris dan pembatasan suara. Aturan tersebut secara
sistematis mendekonstruksi dominasi verbal dan mendorong anak untuk
menggunakan gestur serta mimik wajah sebagai alat komunikasi utama. Hasil
evaluasi membuktikan bahwa pengalaman bermain ini berhasil menuntun
partisipan melalui tahapan ranah afektif hingga memicu fenomena Tangential
Learning. Anak-anak terbukti secara sukarela mengadopsi bahasa isyarat ke dalam
rutinitas keseharian mereka di luar ruang permainan. Disimpulkan bahwa intervensi
desain melalui board game kooperatif efektif untuk meruntuhkan stigma kecacatan
dan menanamkan nilai inklusivitas yang mendalam pada anak dengar.
Perpustakaan Digital ITB