digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Dominasi komunikasi verbal di masyarakat sering kali meminggirkan interaksi non-verbal, sehingga memicu kesenjangan empati antara anak dengar dan komunitas Tuli. Kurangnya pemahaman anak dengar mengenai bahasa isyarat turut menghambat terbentuknya hubungan sosial yang inklusif sejak usia dini. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan merancang board game sebagai media sosialisasi guna menormalisasikan penggunaan bahasa isyarat dan membangun persepsi kesetaraan komunikasi bagi anak dengar usia 8-10 tahun. Metode perancangan menggunakan kerangka kerja Double Diamond yang diintegrasikan dengan pendekatan Design, Dynamics, Experience (DDE) Framework untuk menciptakan ruang simulasi bermain yang aman. Evaluasi data kualitatif dilakukan melalui observasi partisipatif saat uji coba dan divalidasi melalui wawancara mendalam bersama guru kelas. Hasil penelitian ini berupa board game "Ssszoo...!!!", sebuah permainan sosial kooperatif yang mengadopsi mekanika informasi asimetris dan pembatasan suara. Aturan tersebut secara sistematis mendekonstruksi dominasi verbal dan mendorong anak untuk menggunakan gestur serta mimik wajah sebagai alat komunikasi utama. Hasil evaluasi membuktikan bahwa pengalaman bermain ini berhasil menuntun partisipan melalui tahapan ranah afektif hingga memicu fenomena Tangential Learning. Anak-anak terbukti secara sukarela mengadopsi bahasa isyarat ke dalam rutinitas keseharian mereka di luar ruang permainan. Disimpulkan bahwa intervensi desain melalui board game kooperatif efektif untuk meruntuhkan stigma kecacatan dan menanamkan nilai inklusivitas yang mendalam pada anak dengar.