Penelitian ini membahas perancangan animasi sebagai media untuk
mempopulerkan kembali budaya minum Teh Tubruk kepada generasi muda usia
16–25 tahun. Teh Tubruk merupakan salah satu bentuk penyajian teh tradisional
yang memiliki nilai budaya dan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Namun, di tengah dominasi media digital dan maraknya representasi minuman
modern, Teh Tubruk cenderung dipersepsikan sebagai minuman tradisional yang
kurang relevan bagi generasi muda. Metode yang digunakan meliputi studi literatur,
wawancara, observasi, dan penyebaran kuesioner untuk menganalisis karakteristik
target audiens serta merumuskan konsep perancangan yang sesuai. Hasil
kuesioner menunjukkan bahwa target audiens lebih menyukai animasi bergaya
ilustratif dengan cerita slice of life berdurasi 30–60 detik yang didistribusikan
melalui media sosial seperti TikTok dan Instagram Reels. Temuan tersebut selaras
dengan Cultivation Theory yang menjelaskan bahwa paparan media secara
berulang dapat membentuk persepsi audiens terhadap suatu budaya. Berdasarkan
hasil tersebut, dirancang animasi digital bergaya ilustratif yang mengangkat nilai
ritual, kebersamaan, dan kedekatan emosional dalam budaya minum Teh Tubruk.
Perancangan ini diharapkan mampu membangun persepsi yang lebih positif
terhadap Teh Tubruk sebagai bagian dari budaya Indonesia yang tetap relevan bagi
generasi muda.
Perpustakaan Digital ITB