Perkebunan pisang skala menengah di Kabupaten Karawang, khususnya Kebun Pisang
Karangsinom seluas 17 hektar, menghadapi kesenjangan antara kebutuhan mobilitas
operasional yang tinggi dengan kondisi infrastruktur jalan internal yang sempit, tidak
diperkeras, dan berlumpur. Metode transportasi manual yang diterapkan saat ini terbukti
menyebabkan kerusakan mekanis (bruising) pada buah pisang, menimbulkan beban
muskuloskeletal berlebih pada pekerja, serta menurunkan efisiensi waktu panen secara
keseluruhan. Penelitian ini merancang kendaraan utilitas (All-Terrain Vehicle/ATV) modular
berbasis teknologi tepat guna yang mampu beroperasi pada jalur selebar 1,3 meter dengan
kapasitas angkut total 500 kg. Pendekatan Design for the Real World (Papanek) diterapkan
sebagai kerangka filosofi perancangan, dengan sistem penggerak All-Wheel Drive (AWD)
elektrik berbasis baterai LiFePO4 sebagai solusi traksi di medan berkontur dan berlumpur.
Gerobak (trailer) modular yang terhubung melalui sambungan hitch ball dirancang untuk
mengangkut 6–8 tandan pisang (160–240 kg) per perjalanan dengan mekanisme gantung atasbawah guna meminimalkan bruising. Validasi ergonomi dilakukan melalui geometri Rider
Triangle Standard, penilaian REBA, dan mitigasi Whole-Body Vibration (WBV). Hasil
perancangan menunjukkan pengurangan beban kerja logistik sebesar 75 persen dibanding
metode pikul manual, dengan estimasi peningkatan efisiensi waktu panen 40–50 persen pada
skenario target 700 tandan per dua hari kerja.
Perpustakaan Digital ITB