Sektor baja Indonesia saat ini berpusat pada dua ekosistem utama yang saling
bersaing, yaitu PT Krakatau Steel (KRAS) dan grup, produsen baja milik negara di
Jawa, dan pabrik-pabrik baja terintegrasi yang didirikan melalui penanaman modal
asing di Kawasan Industri Indonesia Morowali (IMIP). Konfigurasi ini
memunculkan tantangan dalam analisis menggunakan kerangka persaingan
konvensional, dikarenakan ancaman terbesar bagi produsen nasional kini datang
dari dalam negeri dan bukan dari impor, sehingga tidak dapat terjangkau oleh tarif
dan tindakan pengamanan perdagangan. Dengan melakukan analisis terhadap
utilisasi pabrik Hot Strip Mill 1 (HSM-1) milik KRAS selama periode 2015–2024,
tesis ini menguji proposisi utama, yaitu ketidakmampuan KRAS untuk menutupi
biaya operasional bersifat struktural dan peningkatan efisiensi internal saja tidak
cukup untuk mengembalikan daya saing. Hal ini didorong oleh komposisi biaya
dan utilisasi pabrik yang rendah, dan dapat diperparah dengan masuknya Morowali
baru-baru ini,
Studi ini mensintesis dua kerangka teori untuk melakukan evaluasi masalah dan
memberikan solusi. Studi ini menggunakan pendekatan paradigma Structure
Conduct-Performance (SCP) dalam proses evaluasi masalah dan mengacu pada
Developmental State Model dalam pembuatan rekomendasi solusi. Proses
penyusunan rekomendasi mengadopsi mekanisme kendali timbal balik Amsden
sebagai prinsip operasinya, di mana negara hanya memberikan dukungan
berdasarkan tolok ukur kinerja yang terukur. Studi ini memiliki tiga tujuan yaitu
mengukur hal-hal yang mendorong penurunan utilisasi HSM-1, mengukur
kelemahan biaya terstruktur yang dimiliki KRAS, dan merancang intervensi pada
tingkat
ekosistem industri yang dapat mengembalikan kemampuan
keberlangsungan usaha sekaligus menjaga disiplin dalam berkompetisi.
Selanjutnya, metode penelitian campuran sekuensial eksplanatori digunakan dalam
studi ini untuk melakukan analisis dua tahap. Tahapan kuantitatif dilakukan untuk
membangun dasar empiris dengan menggunakan empat instrumen, berlandaskan
pada analisis Cost-Volume-Profit (CVP) dan model selisih biaya bayangan. Model
CVP mengklasifikasikan setiap unit biaya spesifik di seluruh interval operasi
KRAS untuk memperoleh titik impas volume produksi, margin pengaman, dan efek
pengaruh operasi dari data-data laporan keuangan yang sudah diaudit. Model selisih
biaya bayangan membandingkan KRAS dengan Morowali sebagai acuan biaya
terendah, analisis regresi kemudian mengukur pola kesesuaian, dan analisis
skenario mengolah diagnosis menjadi pilihan kebijakan. Tahap kualitatif berupa
wawancara ahli kemudian memvalidasi dan menyempurnakan temuan ini.
Analisis CVP menunjukkan bahwa HSM-1 hanya mencapai titik impas dalam
empat dari sepuluh tahun. Dengan biaya tetap rata-rata USD 350–560 juta per tahun
dan besaran margin yang terkendala oleh slab impor, fasilitas tersebut
membutuhkan volume 0.3–49.8 persen di atas nilai-nilai yang telah dicapai untuk
mencapai titik impas di tahun-tahun lainnya. Tesis ini menunjukkan bahwa hal ini
menunjukkan ciri-ciri Perangkap Profitabilitas-Utilisasi. Model selisih biaya
bayangan menunjukan KRAS berada USD 125–200 per ton di atas basis biaya
Morowali. Analisis skenario menunjukkan bahwa intervensi modal negara bertahap
melalui Danantara, dimulai dengan pengaktifan kembali tanur tiup dan fasilitas
pengolahan baja senilai sekitar USD 90 juta, menurunkan ambang batas titik impas
dari sekitar 1.518 menjadi 1.248 ribu ton. Pengurangan 270 kt ini terbagi antara
pemulihan harga yang didorong oleh tarif (119 kt) dan biaya variabel yang lebih
rendah dari slab dalam negeri (151 kt). Hasil ini mendukung strategi Ekspansi dan
Bertahanmelalui integrasi pembuatan baja hulu, penegakan konten lokal sebesar 40
persen, penutupan celah reklasifikasi tarif pada baja paduan impor, dan pencapaian
pendanaan dengan pengkondisian kinerja.
Tesis ini menerapkan paradigma SCP untuk menganalisis kegagalan pasar
ekosistem ganda di mana ancaman utama bersifat domestik daripada lintas batas.
Tesis ini juga mengusulkan konsep Perangkap Profitabilitas-Utilisasi sebagai
konstruksi yang berlandaskan CVP serta mengintegrasikan mekanisme kendali
timbal balik Amsden dengan SCP untuk menentukan kapan intervensi negara untuk
membangun daya saing yang tepat dan bukan ketergantungan, dengan model yang
dapat diterapkan untuk industri padat modal di pasar negara berkembang.
Perpustakaan Digital ITB