digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sektor baja Indonesia saat ini berpusat pada dua ekosistem utama yang saling bersaing, yaitu PT Krakatau Steel (KRAS) dan grup, produsen baja milik negara di Jawa, dan pabrik-pabrik baja terintegrasi yang didirikan melalui penanaman modal asing di Kawasan Industri Indonesia Morowali (IMIP). Konfigurasi ini memunculkan tantangan dalam analisis menggunakan kerangka persaingan konvensional, dikarenakan ancaman terbesar bagi produsen nasional kini datang dari dalam negeri dan bukan dari impor, sehingga tidak dapat terjangkau oleh tarif dan tindakan pengamanan perdagangan. Dengan melakukan analisis terhadap utilisasi pabrik Hot Strip Mill 1 (HSM-1) milik KRAS selama periode 2015–2024, tesis ini menguji proposisi utama, yaitu ketidakmampuan KRAS untuk menutupi biaya operasional bersifat struktural dan peningkatan efisiensi internal saja tidak cukup untuk mengembalikan daya saing. Hal ini didorong oleh komposisi biaya dan utilisasi pabrik yang rendah, dan dapat diperparah dengan masuknya Morowali baru-baru ini, Studi ini mensintesis dua kerangka teori untuk melakukan evaluasi masalah dan memberikan solusi. Studi ini menggunakan pendekatan paradigma Structure Conduct-Performance (SCP) dalam proses evaluasi masalah dan mengacu pada Developmental State Model dalam pembuatan rekomendasi solusi. Proses penyusunan rekomendasi mengadopsi mekanisme kendali timbal balik Amsden sebagai prinsip operasinya, di mana negara hanya memberikan dukungan berdasarkan tolok ukur kinerja yang terukur. Studi ini memiliki tiga tujuan yaitu mengukur hal-hal yang mendorong penurunan utilisasi HSM-1, mengukur kelemahan biaya terstruktur yang dimiliki KRAS, dan merancang intervensi pada tingkat ekosistem industri yang dapat mengembalikan kemampuan keberlangsungan usaha sekaligus menjaga disiplin dalam berkompetisi. Selanjutnya, metode penelitian campuran sekuensial eksplanatori digunakan dalam studi ini untuk melakukan analisis dua tahap. Tahapan kuantitatif dilakukan untuk membangun dasar empiris dengan menggunakan empat instrumen, berlandaskan pada analisis Cost-Volume-Profit (CVP) dan model selisih biaya bayangan. Model CVP mengklasifikasikan setiap unit biaya spesifik di seluruh interval operasi KRAS untuk memperoleh titik impas volume produksi, margin pengaman, dan efek pengaruh operasi dari data-data laporan keuangan yang sudah diaudit. Model selisih biaya bayangan membandingkan KRAS dengan Morowali sebagai acuan biaya terendah, analisis regresi kemudian mengukur pola kesesuaian, dan analisis skenario mengolah diagnosis menjadi pilihan kebijakan. Tahap kualitatif berupa wawancara ahli kemudian memvalidasi dan menyempurnakan temuan ini. Analisis CVP menunjukkan bahwa HSM-1 hanya mencapai titik impas dalam empat dari sepuluh tahun. Dengan biaya tetap rata-rata USD 350–560 juta per tahun dan besaran margin yang terkendala oleh slab impor, fasilitas tersebut membutuhkan volume 0.3–49.8 persen di atas nilai-nilai yang telah dicapai untuk mencapai titik impas di tahun-tahun lainnya. Tesis ini menunjukkan bahwa hal ini menunjukkan ciri-ciri Perangkap Profitabilitas-Utilisasi. Model selisih biaya bayangan menunjukan KRAS berada USD 125–200 per ton di atas basis biaya Morowali. Analisis skenario menunjukkan bahwa intervensi modal negara bertahap melalui Danantara, dimulai dengan pengaktifan kembali tanur tiup dan fasilitas pengolahan baja senilai sekitar USD 90 juta, menurunkan ambang batas titik impas dari sekitar 1.518 menjadi 1.248 ribu ton. Pengurangan 270 kt ini terbagi antara pemulihan harga yang didorong oleh tarif (119 kt) dan biaya variabel yang lebih rendah dari slab dalam negeri (151 kt). Hasil ini mendukung strategi Ekspansi dan Bertahanmelalui integrasi pembuatan baja hulu, penegakan konten lokal sebesar 40 persen, penutupan celah reklasifikasi tarif pada baja paduan impor, dan pencapaian pendanaan dengan pengkondisian kinerja. Tesis ini menerapkan paradigma SCP untuk menganalisis kegagalan pasar ekosistem ganda di mana ancaman utama bersifat domestik daripada lintas batas. Tesis ini juga mengusulkan konsep Perangkap Profitabilitas-Utilisasi sebagai konstruksi yang berlandaskan CVP serta mengintegrasikan mekanisme kendali timbal balik Amsden dengan SCP untuk menentukan kapan intervensi negara untuk membangun daya saing yang tepat dan bukan ketergantungan, dengan model yang dapat diterapkan untuk industri padat modal di pasar negara berkembang.