digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Waktu tunggu pelayanan farmasi rawat jalan merupakan indikator penting kualitas pelayanan rumah sakit, namun banyak rumah sakit di Indonesia yang melayani pasien BPJS masih belum memenuhi standar waktu tunggu maksimal yang ditetapkan Permenkes No. 72/2016, yaitu tiga puluh menit untuk resep non-racikan dan enam puluh menit untuk resep racikan. Di Jakarta Heart Centre (JHC) Matraman, waktu tunggu yang lama di farmasi rawat jalan telah menjadi masalah operasional yang berkelanjutan, menimbulkan kekhawatiran terhadap kepuasan pasien dan efisiensi pelayanan, namun titik-titik hambatan spesifik, penyebab utamanya, serta strategi perbaikan yang tepat belum pernah diidentifikasi secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan proses dispensing kondisi saat ini, mengidentifikasi akar penyebab lamanya waktu tunggu, dan merancang model perbaikan kondisi masa depan yang berlandaskan prinsip Lean Healthcare. Penelitian ini menerapkan metodologi Lean Healthcare melalui kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Studi time-motion terhadap 120 sampel dilakukan pada kedua jalur resep (non-racikan dan racikan), mengklasifikasikan setiap aktivitas sebagai Value-Added (VA), Non-Value-Added (NVA), atau Necessary Non-Value-Added (NNVA), dan dipetakan ke dalam Current State Value Stream Map. Waste dianalisis lebih lanjut menggunakan kerangka DOWNTIME, diprioritaskan melalui analisis Pareto, dan ditelusuri akar penyebabnya menggunakan diagram Fishbone dan analisis 5 Why, yang divalidasi melalui wawancara staf dan observasi langsung di lapangan. Analisis Current State menemukan bahwa proses dispensing non-racikan memiliki total Lead Time 39,61 menit, melebihi standar yang berlaku, dengan hanya 11,9 persen waktu proses yang digunakan untuk aktivitas bernilai tambah, sementara Waiting menjadi kategori waste dominan dengan kontribusi 78,1 persen. Analisis Pareto mengidentifikasi empat item waste dominan, resep yang menunggu antrean dalam sistem informasi rumah sakit sebelum dicetak, tray yang menunggu giliran untuk disiapkan, tray yang menunggu resep selesai, serta tray yang menumpuk sebelum diserahkan, yang secara kumulatif menyumbang 76,21 persen dari total waktu non-value-added. Analisis akar penyebab mengidentifikasi tiga penyebab utama, masing-masing mewakili jenis faktor yang berbeda: faktor terkait sumber daya, yaitu alokasi staf yang belum pernah disesuaikan dengan beban kerja per jam; faktor struktural, yaitu belum adanya integrasi sistem antara sistem informasi rumah sakit dan BPJS; serta faktor prosedural, yaitu alur verifikasi berurutan yang belum pernah dirancang ulang secara formal. Tiga inisiatif perbaikan yang saling berkaitan dikembangkan dan diprioritaskan menggunakan kerangka Eliminate-Combine-Rearrange-Simplify. Alokasi staf berbasis beban kerja pada jam-jam sibuk yang teridentifikasi dijustifikasi menggunakan metode Workload Indicators of Staffing Need, serta didukung lebih lanjut oleh model antrean yang menunjukkan penurunan signifikan pada waktu tunggu yang diprediksi ketika jumlah staf ditambah saat permintaan memuncak. Integrasi sistem antara sistem informasi rumah sakit dan BPJS diidentifikasi sebagai inisiatif yang secara struktural diperlukan namun bersifat jangka panjang, karena membutuhkan koordinasi lintas departemen. Alur verifikasi paralel yang digabungkan diusulkan untuk menggantikan proses berurutan yang berlaku saat ini, didukung oleh teori paralelisasi proses. Dengan menerapkan tolok ukur konservatif berbasis data yang diperoleh dari observasi lapangan, efek gabungan dari ketiga inisiatif ini diproyeksikan menurunkan Lead Time dari 39,61 menjadi 26,79 menit, penurunan sebesar 32,4 persen yang membawa proses ini sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku, sekaligus meningkatkan rasio nilai tambah dari 11,9 menjadi 17,7 persen. Penelitian ini memberikan kontribusi baik secara praktis maupun metodologis. Bagi JHC Matraman, penelitian ini menyediakan peta jalan implementasi yang terprioritas dan berlandaskan teori, yang membedakan inisiatif jangka pendek yang dapat dikendalikan secara internal dari inisiatif jangka panjang yang membutuhkan koordinasi eksternal. Secara metodologis, penelitian ini menunjukkan bagaimana pembobotan berbasis data empiris dapat dikombinasikan dengan teori perencanaan tenaga kerja untuk memperkuat kerangka ilmiah studi perbaikan proses Lean Healthcare dalam konteks pelayanan rumah sakit BPJS di Indonesia, sebuah pendekatan yang dapat diadaptasi oleh instalasi farmasi rawat jalan lain yang menghadapi tantangan operasional serupa.