Sektor perunggasan di Indonesia beroperasi dalam lingkungan B2B yang sangat sensitif terhadap harga, di mana pakan menyumbang lebih dari 70 persen dari total biaya produksi. Volatilitas yang terus berlangsung pada harga bahan baku pakan utama, khususnya jagung dan dedak, menciptakan tantangan struktural bagi peternakan skala kecil dan menengah seperti WB Poultry. Ketika harga pakan terus meningkat sementara harga jual B2B tetap tetap karena perjanjian kontrak jangka panjang dengan pelanggan, margin keuntungan menjadi semakin tertekan dan dapat mengancam keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, membuat prototipe, dan memvalidasi solusi pengurangan biaya yang layak secara operasional dengan memanfaatkan sumber daya dan kapabilitas internal WB Poultry.
Penelitian ini menggunakan kerangka metodologis yang terintegrasi, yang terdiri dari Design Thinking, Fishbone Analysis, Mixed-Method Research, Business Model Innovation, dan Digital Adoption untuk UMKM. Melalui wawancara pemangku kepentingan, lokakarya perumusan masalah, sesi ideasi, pembuatan prototipe, dan pengujian terkontrol, dua solusi terintegrasi berhasil dikembangkan, yaitu:
(1) Integrated Farming System (IFS) untuk produksi jagung internal, dan (2) formulasi pakan Selfmix yang terdiri dari 60 persen jagung IFS dan 40 persen konsentrat CP112.
Prototipe diuji dalam tiga domain, yaitu alur kerja budidaya jagung IFS, formulasi dan proses pencampuran Selfmix, serta kelayakan operasional pemberian pakan Selfmix di tingkat kandang. Pengujian dilakukan pada 1.000 ekor ayam selama satu siklus produksi untuk membuka ruang bagi penelitian lanjutan dalam bidang precision feeding, pemantauan digital, dan pengembangan ekosistem agro-poultry terintegrasi. mengevaluasi konsumsi pakan, performa pertumbuhan, mortalitas, stabilitas pencernaan, adaptasi pekerja, dan keandalan operasional secara keseluruhan. Analisis kuantitatif kemudian digunakan untuk menilai dampak terhadap biaya pakan, COGS, dan margin keuntungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model IFS berhasil menurunkan biaya pokok jagung menjadi Rp 1.251 per kilogram, yang setara dengan penurunan sekitar 75 hingga 80 persen dibandingkan harga pasar. Formulasi Selfmix menghasilkan biaya pakan akhir sebesar Rp 5.951 per kilogram, atau terjadi penurunan sebesar 36,3 persen dibandingkan pakan komersial. Biaya pakan per ekor turun sebesar Rp
8.497, sementara COGS ayam pejantan menurun dari Rp 31.658 menjadi Rp 22.713. Peningkatan ini meningkatkan margin keuntungan sebesar 381 persen untuk karkas 0,5kilogram dan 141 persen untuk karkas 0,6 kilogram. Selain itu, performa operasional seperti konsumsi pakan sebesar 2,5 kilogram per ekor, bobot karkas, mortalitas sebesar 5 persen, dan kualitas feses tetap konsisten dengan hasil pakan komersial.
Secara keseluruhan, Temuan menunjukkan bahwa implementasi IFS dan pakan campuran sendiri menghasilkan pengurangan biaya dan peningkatan margin jangka pendek di bawah kendala harga B2B tetap. dalam konteks B2B yang sensitif terhadap harga. Penelitian ini juga memberikan implikasi manajerial bagi peternakan unggas UMKM serta
Perpustakaan Digital ITB