Hanna Syaghofa [29023008]
Terbatas Abdul Aziz Ariarasa
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Abdul Aziz Ariarasa
» Gedung UPT Perpustakaan
Industri kreatif merupakan salah satu sektor ekonomi strategis di Indonesia, yang didorong oleh besarnya populasi anak muda serta meluasnya adopsi teknologi digital. Seiring dengan berbagai inisiatif pemerintah yang mendorong partisipasi generasi muda dalam industri ini, terjadi pergeseran peran anak muda dari konsumen pasif menjadi kontributor aktif dan wirausahawan. Di sisi lain, meningkatnya popularitas budaya fandom telah membuka jalur baru bagi aktivitas kewirausahaan melalui pembuatan dan penjualan produk-produk merchandise penggemar. Berbeda dengan wirausahawan tradisional, para seniman merchandise fandom tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga didorong oleh hasrat dan keterikatan pribadi terhadap fandom yang mereka geluti. Meskipun budaya fandom dan kewirausahaan kreatif telah banyak diteliti secara terpisah, masih sedikit penelitian yang mengkaji persinggungan keduanya di konteks Indonesia. Memahami fenomena ini penting untuk menjelaskan bagaimana anak muda dapat mengubah minat pribadi mereka menjadi kegiatan ekonomi.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami: (1) motivasi pribadi apa yang mendorong aktivitas kewirausahaan mereka; (2) bagaimana seniman merchandise penggemar menjalankan bisnisnya; (3) bagaimana mereka mengelola keuangan dan pendanaan; (4) bagaimana mereka menjangkau dan mempertahankan pasar; (5) bagaimana lingkungan makro dan meso mempengaruhi kegiatan mereka; serta (6) mengusulkan kerangka konseptual yang menggambarkan keberhasilan bisnis seniman merchandise penggemar. Pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretivis dan penalaran abduktif diterapkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan sebelas seniman merchandise penggemar aktif. Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling untuk memastikan representasi yang beragam dari berbagai latar belakang fandom dan kreativitas. Data dianalisis menggunakan thematic analysis berdasarkan kerangka 5M yang dimodifikasi (motivasi, manajemen, uang, pasar, dan lingkungan makro/meso).
Temuan penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis seniman merchandise penggemar dipengaruhi tidak hanya oleh kinerja finansial, tetapi juga oleh keseimbangan antara hasrat kreatif, praktik manajemen yang fleksibel, dan dukungan komunitas. Para partisipan memanfaatkan media sosial dan konvensi penggemar sebagai saluran utama pemasaran, sementara komunitas seniman berbasis daring berperan penting dalam membangun jaringan dan berbagi informasi. Motivasi intrinsik seperti kesenangan, ekspresi diri, dan rasa memiliki ditemukan sebagai pendorong utama. Motivasi ini disertai oleh motivasi ekstrinsik yang mencakup kebutuhan finansial, tekanan ekonomi akibat pandemi COVID-19, ajakan atau dorongan dari teman dan saudara, serta peluang untuk membangun jejaring dalam komunitas fandom maupun lingkaran kreatif. Interaksi antara faktor-faktor ini menunjukkan bahwa kewirausahaan fan-merchandise bukan semata-mata aktivitas ekonomi, tetapi juga bentuk ekspresi budaya yang dibentuk oleh konektivitas digital dan kreativitas kolektif. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan Fan-Merchandise Artists’ Business Success Framework yang menekankan hubungan dinamis antara motivasi, manajemen, uang, pasar, serta lingkungan makro dan meso.
Penelitian ini berkontribusi pada bidang kewirausahaan kreatif dengan memperluas pemahaman tentang kewirausahaan fan-merchandise serta menekankan peran penting motivasi sebagai elemen berbasis hasrat yang menghubungkan identitas fandom dengan perilaku kewirausahaan. Secara teoritis, penelitian ini memperdalam pembahasan tentang kewirausahaan mikro kreatif di negara berkembang dengan menyoroti bagaimana hasrat intrinsik, jaringan komunitas, dan partisipasi budaya saling berinteraksi untuk menopang keberlanjutan usaha kreatif berskala kecil. Penelitian ini juga memperluas kerangka 5M dengan menekankan peran motivasi sebagai dimensi inti yang menangkap karakteristik unik dari kewirausahaan berbasis hasrat dan komunitas dalam sektor kreatif. Secara praktis, temuan penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi pembuat kebijakan, lembaga pendidikan, dan seniman merchandise penggemar dalam mengembangkan sistem dukungan yang inklusif, program pendidikan yang relevan, serta strategi bisnis kolaboratif yang memperkuat keberlanjutan dan pertumbuhan profesional industri fan-merchandise di Indonesia. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya pengakuan terhadap wirausahawan mikro berbasis hasrat sebagai aktor integral dalam ekonomi kreatif Indonesia, yang kontribusinya tidak hanya bernilai ekonomi tetapi juga memperkaya inovasi dan perkembangan budaya.
Perpustakaan Digital ITB