Industri tembakau di Indonesia telah menghadapi tekanan struktural akibat penyesuaian tarif cukai pada periode sebelum dan sesudah COVID?19, yang berdampak pada kinerja industri dari sisi operasional, penetapan harga, dan tingkat keterjangkauan. Skala industri, kontribusi fiskal yang signifikan, serta kompleksitas yang melekat menuntut perlunya identifikasi faktor?faktor yang memengaruhi kinerja industri guna memastikan stabilitas kinerja di tengah seringnya terjadi guncangan non?ekonomi.
Penelitian ini mengkaji dampak guncangan fiskal berupa cukai dan guncangan non?fiskal berupa COVID?19 terhadap pendapatan bersih, Harga Pokok Penjualan (HPP), laba, serta pendapatan berdasarkan lini segmen utama, dengan menggunakan data keuangan triwulanan periode 2018 hingga 2025. Tiga spesifikasi model digunakan, yaitu model COVID?19, model cukai, dan model gabungan, yang seluruhnya memasukkan variabel musiman. Variabel?variabel didefinisikan untuk mengukur dampak nominal terhadap pendapatan, biaya, serta stabilitas segmen. Kinerja model dievaluasi berdasarkan hasil absolut (pendapatan, HPP, laba) dan hasil per segmen, dengan fokus pada interpretabilitas untuk kepentingan manajerial. Model ini juga mencakup pengujian stasioneritas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi guna memvalidasi hasil inferensi. Ketiga spesifikasi model diterapkan menggunakan analisis regresi Ordinary Least Squares (OLS) dengan variabel musiman untuk menjaga kejelasan interpretasi hasil.
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan profitabilitas secara bersih, yang secara statistik signifikan dalam hal dampak negatif COVID?19 terhadap laba. Sementara itu, hasil untuk pendapatan bersih dan HPP tidak menunjukkan signifikansi statistik. Namun demikian, dampak COVID?19 terhadap laba terbukti signifikan dan positif pada segmen bisnis SKM, sedangkan pendapatan bersih total, HPP, dan laba secara keseluruhan tidak signifikan secara statistik. Temuan ini menunjukkan ketahanan kinerja industri melalui penerapan strategi penetapan harga berjenjang, pengendalian biaya yang sensitif terhadap cukai, sinkronisasi produksi dan peluncuran produk dengan tahapan kenaikan tarif, serta rekayasa kemasan dan bentuk produk untuk menjaga keterjangkauan secara berkelanjutan. Hasil penelitian ini memberikan masukan penting bagi perumusan kebijakan, khususnya melalui penyediaan peta jalan cukai yang dapat diprediksi, yang akan membantu menjaga stabilitas kinerja industri dalam menghadapi guncangan seperti COVID?19.
Perpustakaan Digital ITB