Seiring dengan pertumbuhan signifikan sektor kreatif, studio arsitektur menghadapi sebuah tantangan yaitu mencoba menyeimbangkan kreativitas dan proses formalisasi untuk merubah pendekatan menjadi lebih berorientasi bisnis. Penelitian ini mengambil studi kasus Studio A, sebuah studio arsitektur yang sedang berkembang di Indonesia dan didirikan sejak tahun 2010. Studio A telah mencoba menjalani serangkaian inisiatif perubahan untuk menyesuaikan dengan tujuan strategis organisasinya. Inisatif perubahan ini juga didorong oleh perkembangan internal dan eksternal yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, yaitu dengan merestrukturisasi sistem organisasi menjadi lebih “semikorporat” dan mendirikan unit bisnis baru. Meskipun inisiatif perubahan ini telah dibentuk, Studio A belum dapat mengimplementasikannya secara efektif, sehingga inisiatif tersebut menjadi tertunda.
Untuk mengatasi masalah bisnis ini, penelitian ini dilakukan untuk menjawab 3 pertanyaan penelitian berikut: (1) Bagaimana tingkat efektivitas organisasi saat ini di Studio A dibandingkan dengan tingkat efektivitas yang diinginkan melalui inisiatif perubahan?, (2) Bagaimana proses perubahan organisasi saat ini selaras dengan kerangka kerja manajemen perubahan untuk mendukung reformasi organisasi yang sukses?, dan (3) Apa tindakan strategis yang harus diimplementasikan Studio A untuk meningkatkan proses manajemen perubahan dan memastikan reformasi organisasi yang efektif?. Kondisi ideal dan kondisi saat ini efektivitas organisasi Studio A dievaluasi menggunakan kerangka kerja McKinsey 7S. Setelah kesenjangan antara dua kondisi tersebut telah diidentifikasi, proses perubahan yang dilakukan Studio A dianalisis menggunakan kerangka kerja Kotter 8-step change management untuk menentukan langkah paling tepat dalam rangka meningkatkan efektivitas organisasi Studio A. Beberapa temuan menunjukkan ada beberapa hal mendasar yang menghambat proses perubahan di Studio A. Selain itu, Kotter 8-step change management dapat menjadi acuan untuk proses perubahan Studio A terutama lima langkah pertama yang berfokus pada melunturkan status quo organisasi. Berdasarkan temuan ini, penelitian ini merekomendasikan serangkaian tindakan strategis yaitu mendefinisikan visi, mengatur otonomi pengambilan keputusan, menetapkan program pengembangan kepemimpinan untuk manajer dan supervisor, menetapkan perekrutan bertahap dan mengevaluasi efektivitas peran, menetapkan manajemen talenta dan jenjang karier, serta menyelaraskan kompensasi dan rekognisi untuk karyawan.
Perpustakaan Digital ITB