Meningkatnya ketidakpastian global menuntut perusahaan manufaktur untuk tidak hanya
mencapai kinerja optimal, tetapi juga mempertahankan resiliensi organisasi secara terukur.
Resilience Balanced Scorecard (RBSC) hadir sebagai respons atas keterbatasan tersebut
dengan menambahkan perspektif resiliensi sebagai perspektif kelima. Penelitian ini bertujuan
untuk mengembangkan model pengukuran kinerja terintegrasi yang menggabungkan RBSC,
Analytic Hierarchy Process (AHP), dan Objective Matrix (OMAX) pada perusahaan
manufaktur, dengan PT PBI sebagai objek validasi. Metodologi penelitian mencakup
perancangan Resilience Strategy Map (RSM) berdasarkan strategi perusahaan, perumusan Key
Performance Indicator (KPI), pembobotan prioritas menggunakan AHP melalui kuesioner
kepada 13 praktisi manajemen PT PBI, serta penilaian skor kinerja menggunakan OMAX.
Hasil penelitian menghasilkan RSM dengan 14 objektif strategis yang terdistribusi ke dalam 5
perspektif RBSC, 21 KPI yang dibobotkan secara hierarkis menggunakan AHP, serta indeks
kinerja kuantitatif berbasis OMAX untuk tahun 2025. Berdasarkan hasil pengukuran,
perspektif pelanggan memperoleh bobot tertinggi (30,1%), diikuti perspektif keuangan
(21,2%), pembelajaran dan pertumbuhan (17%), resiliensi (16,7%), dan proses bisnis internal
(15%). Dari 16 KPI yang dapat dihitung, 10 KPI berstatus hijau, 1 KPI berstatus kuning, dan
5 KPI berstatus merah, dengan indeks kinerja perusahaan berada pada status "Cukup" hingga
“Baik” berdasarkan analisis sensitivitas. Penelitian ini berkontribusi dengan
mengoperasionalisasikan konsep resiliensi organisasi ke dalam indikator kuantitatif
terstandarisasi melalui integrasi RBSC-AHP-OMAX pada perusahaan manufaktur.
Perpustakaan Digital ITB