digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

UKM batik dituntut menerapkan praktik ramah lingkungan sekaligus mempertahankan resiliensi di tengah dinamika lingkungan bisnis yang tidak menentu. Literatur menunjukkan bahwa orientasi ekosentris manajerial dan kapabilitas proses bisnis hijau dapat meningkatkan organizational resilience, namun kajian terdahulu masih berfokus pada hubungan linear simetris sehingga belum menjelaskan kondisi minimum maupun kombinasi faktor yang bersamasama menghasilkan resiliensi tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh langsung, mediasi, dan moderasi Ecocentric Management Mindset (EMM), Green Business Process Management (Green BPM), Stakeholder Pressure (SP), Collective Threshold (CT), dan Networking Capability (N) terhadap Organizational Resilience (OR), sekaligus mengidentifikasi kondisi prasyarat, prioritas perbaikan, dan konfigurasi yang menghasilkan resiliensi tinggi. Penelitian menggunakan survei cross-sectional terhadap pemilik/manajemen UKM batik, dengan instrumen tervalidasi melalui content validity dan pilot test, menghasilkan 152 data valid. Data diolah dengan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), Necessary Condition Analysis (NCA), combined Importance-Performance Map Analysis (cIPMA), dan fuzzy-set Qualitative Comparative Analysis (fsQCA). Hasil menunjukkan bahwa EMM berpengaruh signifikan terhadap Green BPM, tetapi tidak berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap OR, menunjukkan bahwa orientasi ekologis manajemen dan kapabilitas proses bisnis hijau saja belum cukup untuk menghasilkan resiliensi organisasi. Networking Capability menjadi satu-satunya moderator yang secara signifikan memperkuat pengaruh Green BPM terhadap OR. Analisis NCA menunjukkan bahwa N, EMM, dan Green BPM merupakan kondisi perlu bagi terciptanya OR, dengan N dan EMM memiliki peran yang lebih fundamental. Selanjutnya, analisis fsQCA mengidentifikasi enam konfigurasi kondisi yang mampu menghasilkan resiliensi yang tinggi yang menunjukkan bahwa resiliensi dibentuk melalui kombinasi berbagai kapabilitas dan kondisi kontekstual, dengan Networking Capability sebagai kondisi yang paling konsisten muncul dalam konfigurasi keberhasilan.