Keterlambatan penyelesaian layanan Teknologi Informasi (TI) pada aplikasi
ServiceDesk Diskominfotik Kabupaten Bandung Barat menunjukkan masih
dominannya aktivitas administratif yang manual dan berulang pada beberapa sublayanan,
salah satunya layanan pembuatan email kedinasan. Kondisi ini
menimbulkan kebutuhan otomasi untuk mengurangi penyalinan data antar media,
mempercepat penyelesaian proses, dan menurunkan potensi kesalahan input.
Penerapan otomasi berbasis RPA sangat ditentukan oleh pemilihan proses yang
tepat. Kerangka seleksi seperti PLOST Framework pada umumnya memanfaatkan
process mining untuk analisis kuantitatif, sementara pada studi kasus ServiceDesk,
event log yang dibutuhkan tidak tersedia, sehingga diperlukan pendekatan
kuantitatif alternatif pada seleksi kandidat RPA.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan mekanisme seleksi kandidat proses RPA
pada level sub-layanan ketika event log tidak tersedia, serta mendemonstrasikan
hasil seleksi melalui pengembangan purwarupa RPA. Metodologi yang digunakan
adalah Design Science Research Methodology (DSRM). Kriteria seleksi disusun
dengan mengadaptasi PLOST menjadi 11 kriteria penilaian yang terukur. Metode
Multi-Criteria Decision-Making digunakan untuk menghasilkan prioritas dengan
AHP digunakan untuk pembobotan kriteria dan TOPSIS digunakan untuk
pemeringkatan 7 alternatif sub-layanan ServiceDesk. Validasi metode dilakukan
dengan membandingkan hasil prioritas skala penilaian menggunakan AHP–
TOPSIS terhadap baseline process mining pada dataset layanan lain yang memiliki
event log (Uji KIR). Berdasarkan perbandingan, kedua metode tersebut berhasil
memberikan dua prioritas teratas yang sama. Evaluasi terbatas terhadap kinerja
RPA menunjukkan pengurangan waktu layanan sebesar 87%. Temuan ini
menunjukkan bahwa mekanisme seleksi yang dikembangkan dapat digunakan
untuk menentukan prioritas kandidat otomasi pada kondisi keterbatasan data, dan
implementasi RPA pada layanan terpilih mampu mempercepat proses dibanding
pelaksanaan manual.
Perpustakaan Digital ITB