digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pada pembangunan asrama gedung C dan D ITB oleh PT X, banyak pekerja tidak menggunakan APD serta banyaknya tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman yang menyebabkan kecelakaan pada proyek. PT X tidak melakukan identifikasi bahaya dan analisis risko secara terstruktur sehingga akan banyak potensi bahaya terlewatkan dan menyebabkan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bahaya, menganalisis risiko, menentukan metode identifikasi bahaya terbaik dan sensitif dalam menentukan skor risiko, menentukan pekerjaan dengan skor risiko tertinggi, dan merekomendasikan tindakan pengendalian. Metode untuk mengidentifikasi bahaya adalah Job Hazard Analysis (JHA) dan What-If/Checklist. Pemilihan metode identifikasi bahaya terbaik menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian ini adalah bahaya yang didapat dengan JHA adalah bahaya kimia, api/panas, cahaya/sinar las, bising, gerakan, gesekan/kontak dengan alat, listrik, kinetik, getaran, dan tertimpa/terjatuh. Sedangkan metode What-If/Checklist adalah bahaya gravitasi, gerakan, mekanikal/kinetik, elektrikal, tekanan, temperatur, kimia, radiasi, suara, kontak fisik dengan alat, dan kondisi tidak aman. Risiko bahaya tertinggi metode JHA adalah paparan bising pada pekerja dan pekerja dapat terjatuh dari lantai atap. Sedangkan metode What-If/Checklist adalah susunan bata ringan terjatuh mengenai pekerja dan susunan keramik terjatuh mengenai pekerja (pengangkutan dengan crane). Dari hasil AHP, What-If/Checklist merupakan metode identifikasi bahaya terbaik untuk PT X. Dari skor total risiko secara keseluruhan, metode What-If/Checklist merupakan metode yang paling sensitif dalam penentuan skor risiko. Pekerjaan dengan skor risiko tertinggi secara keseluruhan pada metode What-If/Checklist dan JHA adalah pekerjaan struktur lantai. Tindakan pengendalian risiko dilakukan pada skor risiko proyek yang termasuk dalam tingkatan risiko very high, priority 1, dan substantial.