Proyek jalan Trans Papua dengan skema rancang-bangun menunjukkan tren penurunan Schedule Performance Index (SPI) selama tujuh bulan pertama konstruksi (November 2024–April 2025), turun dari 3,25 menjadi 1,26 meskipun masih di atas ambang batas 1,00, yang mengindikasikan risiko keterlambatan kumulatif akibat perbedaan data topografi antara DEMNAS (data klien) dan LIDAR (data kontraktor). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi akar penyebab siklus desain-review-penyesuaian berulang dan mengembangkan solusi proses bisnis berbasis Process Chain Network (PCN) untuk meningkatkan efisiensi manajemen stakeholder dalam proyek infrastruktur KPBU.
Pendekatan mixed-methods diterapkan, mengintegrasikan analisis kuantitatif SPI dan Schedule Variance dari Laporan Progres Bulanan dengan wawancara mendalam terhadap lima manajer proyek dan analisis isi berbasis ATLAS.ti. Kerangka Value Co-Creation, DART-PDCA, dan PCN menghasilkan tiga alternatif proses yang dievaluasi melalui Analytical Hierarchy Process (AHP) berdasarkan kriteria kepatuhan, alternatif desain, waktu siklus, tahapan proses, dan biaya operasional.
Hasil AHP memprioritaskan PCN 1 yang memungkinkan penyerahan paralel alternatif desain lengkap, mencapai efisiensi waktu siklus 4,5 bulan dan penghematan biaya substansial. Implementasi jangka pendek sejak Juli 2025 meningkatkan SPI dari 1,11 menjadi 1,17 (September 2025), mengurangi potensi denda keterlambatan sebesar Rp13,5 miliar. Rekomendasi mencakup prosedur standar PCN-PDCA untuk replikasi pada proyek rancang-bangun serupa.
Perpustakaan Digital ITB