digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Dewi Supryati

Pengadaan jasa konsultansi enjiniring merupakan elemen kunci dalam menjamin ketepatan waktu dan kualitas pelaksanaan proyek ketenagalistrikan di PT PLN Enjiniring. Namun, kinerja pengadaan masih menghadapi permasalahan struktural berupa keterlambatan penyelesaian pekerjaan, tingginya frekuensi amandemen kontrak, serta proses pengambilan keputusan yang belum sepenuhnya berbasis analisis risiko dan dampak strategis. Kondisi tersebut tercermin dari belum optimalnya pencapaian indikator On-Time Delivery (OTD) dan berpotensi menghambat akselerasi proyek ketenagalistrikan nasional sesuai RUPTL 2025– 2034 Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan merancang kerangka pengambilan keputusan strategi pengadaan melalui integrasi Kraljic Portfolio Matrix dan metode Analytic Hierarchy Process (AHP)–Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Metode Delphi diterapkan untuk mengidentifikasi dan memvalidasi kriteria Supply Risk dan Profit Impact serta kriteria pemilihan supplier sesuai karakteristik pengadaan jasa konsultansi enjiniring. AHP digunakan dalam dua tahapan utama, yaitu untuk menghitung bobot kriteria Supply Risk dan Profit Impact sebagai dasar pemetaan item pengadaan pada Kraljic Portfolio Matrix, serta untuk menentukan bobot kriteria dan sub-kriteria pemilihan supplier pada masing-masing kuadran Kraljic. Selanjutnya, TOPSIS digunakan untuk melakukan pemeringkatan alternatif supplier berdasarkan tingkat kedekatan terhadap solusi ideal pada setiap kategori ii pengadaan. Objek penelitian mencakup pengadaan jasa konsultansi pada infrastruktur transmisi, gardu induk, dan pembangkit di PT PLN Enjiniring Hasil penelitian menunjukkan bahwa item pengadaan PT PLN Enjiniring dapat diklasifikasikan secara sistematis ke dalam empat kuadran Kraljic, yaitu non- critical, leverage, bottleneck, dan strategic, dengan profil risiko dan dampak strategis yang berbeda antara kelompok transmisi dan gardu induk dan pembangkit. Selain itu, penelitian ini mengidentifikasi adanya penambahan dan diferensiasi kriteria pemilihan supplier pada beberapa kuadran Kraljic, yang tidak sepenuhnya tercakup dalam model Kraljic konvensional, sebagai respons terhadap kompleksitas teknis, risiko kinerja, dan kebutuhan kolaborasi jangka panjang pada pengadaan jasa konsultansi enjiniring. Pembobotan menggunakan AHP menunjukkan bahwa kriteria dominan pada setiap kuadran bersifat spesifik dan tidak seragam, sementara hasil pemeringkatan supplier menggunakan TOPSIS menghasilkan urutan prioritas supplier yang berbeda dibandingkan praktik eksisting, sehingga menyediakan dasar pengambilan keputusan pengadaan yang lebih objektif, terukur, dan kontekstual terhadap profil risiko serta kepentingan strategis perusahaan.