digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kebijakan pemerintah untuk memaksimalkan penyerapan minyak mentah domestik menempatkan Pertamina Refinery Unit III Plaju pada posisi strategis yang kompleks, terutama akibat meningkatnya kebutuhan pengolahan minyak mentah dengan kandungan garam tinggi. Kondisi ini menimbulkan risiko terhadap keandalan peralatan, stabilitas proses, dan efisiensi operasional, sehingga memerlukan pengambilan keputusan yang lebih terstruktur dan robust Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hambatan dalam pengambilan keputusan strategis, mengembangkan kerangka perbaikan, serta mengevaluasi efektivitasnya. Pendekatan mixed-methods digunakan dengan desain sequential exploratory, menggabungkan analisis kualitatif seperti SWOT, Five-Why, wawancara, dan focus group discussions, serta Value-Focused Thinking (VFT) dan analisis kuantitatif menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). VFT digunakan untuk merumuskan tujuan dan alternatif strategi, sedangkan AHP digunakan untuk menyusun kriteria, menentukan bobot, dan memprioritaskan alternatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama bersifat sistemik, terutama inkonsistensi tata kelola dan kurangnya integrasi kriteria evaluasi. Kerangka VFT AHP yang dikembangkan menetapkan empat kriteria utama yaitu Operational Excellence, Process Stability, Economic Performance, dan Strategic Feasibility dengan empat alternatif strategi. Hasil AHP menunjukkan instalasi desalter baru sebagai prioritas utama (32,9%), dengan hasil yang tetap stabil pada analisis sensitivitas hingga ±20%. Kerangka ini meningkatkan kejelasan, konsistensi, dan transparansi pengambilan keputusan melalui pendekatan multi-kriteria yang terstruktur dengan mengubah proses yang sebelumnya terfragmentasi dan bersifat biner. Validasi manajemen menunjukkan bahwa kerangka ini praktis untuk diimplementasikan serta meningkatkan akuntabilitas dan keterpertanggungjawaban keputusan dalam menghadapi tekanan regulasi dan audit