Kebijakan pemerintah untuk memaksimalkan penyerapan minyak mentah domestik
menempatkan Pertamina Refinery Unit III Plaju pada posisi strategis yang
kompleks, terutama akibat meningkatnya kebutuhan pengolahan minyak mentah
dengan kandungan garam tinggi. Kondisi ini menimbulkan risiko terhadap
keandalan peralatan, stabilitas proses, dan efisiensi operasional, sehingga
memerlukan pengambilan keputusan yang lebih terstruktur dan robust
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hambatan dalam pengambilan keputusan
strategis, mengembangkan kerangka perbaikan, serta mengevaluasi efektivitasnya.
Pendekatan mixed-methods digunakan dengan desain sequential exploratory,
menggabungkan analisis kualitatif seperti SWOT, Five-Why, wawancara, dan
focus group discussions, serta Value-Focused Thinking (VFT) dan analisis
kuantitatif menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). VFT digunakan untuk
merumuskan tujuan dan alternatif strategi, sedangkan AHP digunakan untuk
menyusun kriteria, menentukan bobot, dan memprioritaskan alternatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama bersifat sistemik, terutama
inkonsistensi tata kelola dan kurangnya integrasi kriteria evaluasi. Kerangka VFT
AHP yang dikembangkan menetapkan empat kriteria utama yaitu Operational
Excellence, Process Stability, Economic Performance, dan Strategic Feasibility
dengan empat alternatif strategi. Hasil AHP menunjukkan instalasi desalter baru
sebagai prioritas utama (32,9%), dengan hasil yang tetap stabil pada analisis
sensitivitas hingga ±20%. Kerangka ini meningkatkan kejelasan, konsistensi, dan
transparansi pengambilan keputusan melalui pendekatan multi-kriteria yang
terstruktur dengan mengubah proses yang sebelumnya terfragmentasi dan bersifat
biner. Validasi manajemen menunjukkan bahwa kerangka ini praktis untuk
diimplementasikan serta meningkatkan akuntabilitas dan keterpertanggungjawaban
keputusan dalam menghadapi tekanan regulasi dan audit
Perpustakaan Digital ITB