Penelitian ini membahas pengembangan produk fungsional berbahan sabut kelapa
yang diolah menjadi cocosheet[1] menggunakan teknik press[2] dingin. Indonesia
memproduksi sabut kelapa dengan melimpah, dan sudah diolah menjadi berbagai
bentuk baru seperti cocosheet. Namun meski sudah terbukti memiliki kekuatan
mekanis yang ideal, pemanfaatan cocosheet masih terbatas pada produk seperti
mulsa dan alas hewan. Padahal, cocosheet memiliki potensi sifat mekanik dan
karakter material yang dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai guna dan
nilai jual yang lebih tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelebihan dan keterbatasan
cocosheet dibandingkan olahan sabut kelapa lainnya, serta menemukan peluang
diversifikasi produk berdasarkan sifat dan karakteristik materialnya. Metode yang
digunakan meliputi studi literatur, wawancara dengan pelaku industri sabut kelapa,
serta eksplorasi dan eksperimen material menggunakan pendekatan Material
Toolkit. Proses eksplorasi difokuskan pada cocosheet dengan perbandingan lateks
dan sabut kelapa 1:1 yang dipress menggunakan mesin hidraulik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa cocosheet memiliki sifat lentur, variatif
kerapatan kompositnya[3] dengan berat jenis (bulk density) cocosheet berkisar
antara 70–120 kg/m³ dalam kondisi kering, tergantung pada tingkat kepadatan
pengepresan dan ketebalannya (TradeIndia, n.d., bagian "Product Specifications"),
tidak licin, dan memiliki daya cengkeram yang baik, namun memiliki keterbatasan
pada ketahanan terhadap kelembapan dan usia pakai. Berdasarkan temuan tersebut,
cocosheet dinilai lebih sesuai untuk produk fungsional dengan durasi penggunaan
menengah hingga pendek dan tidak digunakan pada lingkungan lembap. Penelitian
ini menghasilkan arah pengembangan desain produk berbahan cocosheet yang
mempertimbangkan batasan material, peluang pengembangan produk alat
kebersihan, proses produksi, serta prinsip keberlanjutan.
Perpustakaan Digital ITB