Industri kedai kopi di Yogyakarta telah memasuki pasar "Red Ocean" yang sangat
jenuh, dengan total gerai aktif di Yogyakarta lebih dari 3500 gerai yang aktif
berkompetisi memperebutkan pangsa pasar mahasiswa dan generasi Z. Dingo
Coffee mengalami stagnasi pertumbuhan pendapatan sepanjang tahun 2023-2023.
Dalam mengatasi masalah tersebut, Dingo Coffee melakukan strategi rebranding
revolusioner pada akhir tahun 2024 hingga 2025. Penelitian ini bertujuan untuk
mengukur dan menganalisis secara empiris mengenai pengaruh simultan dan
parsial dari empat dimensi utama dari rebranding, yaitu Repositioning (????1),
Renaming (????2), Redesign (????3), dan Relaunch (????4) terhadap minat beli konsumen
(Y).
Penelitian ini menggunakan desain eksplanatori menggunakan pendekatan
kuantitatif.
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan,
dokumentasi, data penyebaran kuesioner terhadap 102 responden menggunakan
teknik purposive sampling dengan kriteria, yaitu konsumen yang pernah
mengunjungi Dingo Coffee baik sebelum maupun sesudah rebranding dilakukan.
Data diuji menggunakan validitas dan reliabilitas lalu dipastikan memenuhi syarat
uji asumsi klasik, yitu normalitas, multikolinieritas, dan heteroskedastisitas
sebelum dianalisis menggunakan regresi linear berganda.
Model regresi berganda menghasilkan nilai yang stabil (Y = -4.172 + 0.397????1 +
0.454????2 + 0.288????3 + 0.201????4) dan mampu menjelaskan 54,1% varians dari minat
beli konsumen (????2 = 0,541). Uji F (28,621, p < 0,05) menjustifikasi bahwa
dilakukannya rebranding berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli.
Secara parsial, keempat dimensi rebranding dapat berpengaruh signifikan
terhadap minat beli (p < 0,05). Variabel Renaming (????2) terbukti sebagai dimensi
paling dominan dengan (? = 0,454). Hal ini membuktikan bahwa transisi menuju
branding/visual baru berhasil melekat kuat dalam ingatam konsumen dan
menurunkan beban kognitif mereka. Hal ini diikuti oleh Repositioning (? = 0,397),
Redesign (? = 0,288), dan Relaunch (? = 0,201).
Nilai intersep/konstanta yang bernilai negatif kuat ( ? = -4.172) secara empiris
membuktikan bahwa jika Dingo Coffee memilih bersikap pasif, minat beli
konsumen akan merosot tajam. Secara manajerial, Dingo Coffee harus
mengoptimalkan dilema utilitas ruang akibat pembaruan tata letak servicescape
industrial-minimalis yang kini menjadi lebih luas dan estetis. Mengingat profil
demografi didominasi oleh mahasiswa dan Gen Z (72%), manajemen disarankan
menerapkan zonasi ruang dengan menyeimbangkan area dengan perputaran
konsumen tinggi (high-turnover) yang dilengkapi meja komunal serta stopkontak
melimpah serta menjalankan kampanye pemasaran berbasis narasi digital yang
konsisten demi mempertahankan proposisi nilai premium yang baru.
Perpustakaan Digital ITB