digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pergeseran menuju mobilitas listrik menjadi katalis utama yang merevolusi industri manufaktur otomotif di Asia. Pasar otomotif global mengalami perubahan dinamika pasar karena pemerintah di berbagai negara telah menetapkan tujuan untuk mencapai akses listrik penuh di beberapa wilayah mereka sebagai bentuk kontribusi komitmen pengurangan emisi. Namun strategi elektrifikasi ini dapat menjadi tantangan finansial tersendiri bagi industri otomotif ataupun menjadi strategi bisnis berkelanjutan utama untuk mencapai kesuksesan jangka panjang. Dalam konteks ini, studi ini bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana berbagai indikator strategi adopsi kendaraan listrik (EV) terkait dengan profitabilitas dan nilai perusahaan dalam lingkungan dinamis seperti industri saat ini.. Studi ini menggunakan pendekatan data kuantitatif dengan pengujian regresi data panel. Pengamatan dilakukan pada tingkat perusahaan untuk 21 produsen otomotif yang terdaftar secara publik di Asia. Periode pengamatan dilakukan pada tahun 2018 hingga 2024 yang mencakup laju perkembangan EV selama periode tersebut. Tiga indikator digunakan untuk mengukur strategi adopsi EV: Rasio Penjualan EV, Keragaman Produk EV, dan Paten EV. Profitabilitas diukur menggunakan return on assets (ROA) dan nilai perusahaan dikur menggunakan Tobin’s Q. Untuk memisahkan pengaruh strategi EV dari perbedaan struktural antar perusahaan, ukuran perusahaan, usia perusahaan, leverage, produk domestik bruto, inflasi, dan perubahan harga minyak mentah digunakan sebagai variabel kontrol. Hasil studi ini menunjukan implikasi keuangan yang beragam dari ketiga indikator strategi adopsi EV. Rasio Penjualan EV menunjukan pengaruh negatif yang signifikan terhadap profitabilitas, artinya peningkatan pangsa penjualan EV memberikan tekanan jangka pendek pada kinerja operasional daripada manfaat. Namun Keragaman Produk EV dan Paten EV tidak berpengaruh terhadap profitabilitas, yang menunjukan bahwa penawaran model EV yang lebih beragam dan dampak sumber daya teknologi seperti paten tidak dirasakan secara langsung memberikan manfaat keuangan. Hasil lain menunjukkan bahwa Rasio Penjualan EV dan Keragaman Produk EV tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, hal ini menyiratkan bahwa pasar modal belum mempertimbangkan secara sistematis elemen strategi EV ini dalam hal nilai perusahaan. Namun, Paten EV menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap nilai perusahaan, karena mewakili persepsi investor terhadap aset teknologi terkait EV sebagai peningkatan nilai. Kesimpulan ini sejalan dengan pandangan bahwa paten dapat berfungsi sebagai bentuk aset yang bertindak sebagai indikator awal inovasi yang dapat melindungi keunggulan kompetitif di masa depan dan berkontribusi pada sentimen pasar terhadap posisi jangka panjang. Secara ringkas, studi ini menunjukkan transisi menuju EV akan menjadi beban keuangan bagi perusahaan tanpa adanya perencanaan dan strategi yang matang, sementara aset berorientasi inovasi, terutama paten, mulai berubah menjadi nilai tambah perusahaan. Adapun implikasi bisnis bagi manajer untuk menyeimbangkan ekspansi EV dengan keberlanjutan keuangan, dan bagi pembuat kebijakan untuk memfasilitasi kemampuan industri yang akan memungkinkan mereka tetap kompetitif dalam jangka panjang di tengah perkembangan EV.