digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kerusakan pada alat berat dalam operasi pertambangan akan berdampak pada biaya ribuan dolar per jam, terlepas dari perbaikan terjadwal atau yang tidak terjadwal. Lokasi yang terpencil membuat logistic dan rantai pasokan menjadi tantangan tersendiri. Kualitas perawatan, peramalan, kondisi lingkungan, ketersediaan anggaran, sifat pembayaran, kemampuan vendor, dan penyebaran lokasi terpencil merupakan tantangan lain dalam mengelola inventori dalam bisnis pertambangan. Dalam situasi lain, tekanan untuk selalu beroperasi dengan biaya yang efisien wajib dilakukan untuk dapat bertahan di operasional, dan situasi ini mendorong beberapa strategi guna mengurangi biaya konsumsi suku cadang. Oleh karena itu, memastikan ketersediaan suku cadang sangat strategis. Sementara produsen peralatan asli (OEM) secara alami mendominasi ruang ini, banyak merek purnajual telah muncul, menjanjikan masa pakai yang diharapkan, kualitas kinerja yang serupa dengan barang asli dengan harga lebih rendah, Terutama, setelah lepas masa garansinya. Studi ini menyelidiki bagaimana perilaku konsumen B2B yang memengaruhi niat untuk membeli suku cadang purnajual dan non-asli untuk armada alat berat di pertambangan. Berdasarkan teori perilaku terencana seperti risiko downtime yang dirasakan, sensitivitas total biaya kepemilikan (TCO), dan kualitas hubungan pemasok, penelitian ini mempertanyakan faktor kontrol apa yang paling kuat memengaruhi niat pengadaan, antara preferensi asli dan non-asli, dan faktor apa yang memengaruhi keinginan pengadaan untuk beralih ke merek non-asli atau purnajual. Memahami keinginan dan alasan di balik keputusan tersebut akan bermanfaat bagi industri dalam rangka mempersiapkan strategi keterlibatan yang tepat dan penetrasi pasar, serta mengelompokkan perusahaan berdasarkan niat tersebut.