digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kepemilikan properti telah lama dipandang sebagai penanda utama keamanan finansial dan akumulasi kekayaan jangka panjang di Indonesia. Namun, bagi dewasa muda yang memasuki usia produktif, aspirasi ini berbenturan dengan realitas ekonomi yang sulit. Meskipun harga properti residensial hanya tumbuh moderat dalam periode terakhir, tingkat harga properti tetap tinggi secara struktural relatif terhadap pendapatan. Estimasi rasio harga rumah terhadap pendapatan di Jakarta berkisar antara 10,3 (World Bank) hingga 24,9 (Numbeo), keduanya jauh di atas ambang 3,0 yang secara konvensional dianggap terjangkau. Harga properti dan upah tumbuh dengan laju yang relatif setara sejak 2019, yang menunjukkan bahwa kendala keterjangkauan bukan merupakan pemburukan yang baru terjadi, melainkan kondisi struktural yang telah mengakar. Dalam kondisi ini, dewasa muda Indonesia menunjukkan respons yang beragam, yang mengindikasikan bahwa niat investasi properti tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi pasar, melainkan juga dibentuk oleh faktor psikologis, sosial, dan kemampuan pada tingkat individu. Meskipun penelitian mengenai niat investasi telah berkembang luas, studi terdahulu sebagian besar berfokus pada instrumen pasar modal, sementara properti fisik sebagai objek investasi di kalangan dewasa muda masih relatif kurang diteliti. Selain itu, persepsi keterjangkauan — yang boleh dikatakan merupakan kendala utama bagi generasi ini — jarang dimasukkan sebagai determinan dalam model niat perilaku. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan mengkaji bagaimana literasi finansial dan determinan perilaku dari Theory of Planned Behavior membentuk niat investasi properti fisik pada dewasa muda Indonesia berusia 25 hingga 35 tahun. Penelitian ini memposisikan literasi finansial sebagai faktor latar yang membentuk ketiga determinan perilaku dalam Theory of Planned Behavior — sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku yang dioperasionalkan sebagai persepsi keterjangkauan properti — yang selanjutnya dihipotesiskan memengaruhi niat. Jalur langsung dari literasi finansial ke niat juga diuji untuk menentukan apakah pengaruhnya termediasi secara penuh atau parsial oleh determinan perilaku. Sepuluh hipotesis diajukan, terdiri atas tiga jalur anteseden, tiga jalur determinan menuju niat, satu jalur langsung, dan tiga jalur mediasi. iii Pendekatan kuantitatif digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang disebarkan melalui berbagai kanal digital pada periode 27 Juni hingga 11 Juli 2026, dan memperoleh 213 respons. Setelah melalui prosedur penyaringan sistematis yang mengeluarkan responden di luar rentang usia sasaran, responden yang telah memiliki properti investasi, responden yang gagal pada butir pemeriksaan perhatian, serta responden dengan pola jawaban seragam, diperoleh 177 respons valid. Data dianalisis menggunakan partial least squares structural equation modeling (PLS-SEM) dengan 5.000 subsampel bootstrap. Model pengukuran memenuhi seluruh kriteria evaluasi: outer loadings, reliabilitas konsistensi internal (Cronbach’s alpha 0,865–0,886; composite reliability 0,903 0,921), validitas konvergen (AVE 0,652–0,746), serta validitas diskriminan yang diuji melalui kriteria Fornell-Larcker dan rasio heterotrait-monotrait. Uji full collinearity mengonfirmasi bahwa common method bias tidak menjadi ancaman serius terhadap validitas temuan. Enam dari sepuluh hipotesis didukung. Literasi finansial berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketiga determinan perilaku: sikap (? = 0,489), norma subjektif (? = 0,457), dan persepsi kontrol perilaku (? = 0,357). Di antara ketiga determinan tersebut, sikap merupakan prediktor dominan terhadap niat (? = 0,438), diikuti norma subjektif secara marginal (? = 0,224), sementara persepsi kontrol perilaku tidak mencapai signifikansi statistik dalam sampel ini (? = 0,154, p = 0,067). Literasi finansial tidak berpengaruh langsung secara signifikan terhadap niat (? = ?0,089), dan dari ketiga jalur mediasi, hanya jalur melalui sikap yang signifikan (? = 0,214), sehingga terjadi mediasi tidak langsung sepenuhnya (indirect-only mediation) melalui sikap. Model ini menjelaskan 44,4 persen varians niat investasi properti. Temuan utama penelitian ini berkaitan dengan hubungan antara persepsi keterjangkauan dan niat. Responden mencatatkan skor persetujuan terendah pada konstruk persepsi kontrol perilaku di antara kelima konstruk, namun secara bersamaan melaporkan skor tertinggi pada niat — dan persepsi kontrol perilaku tidak berpengaruh signifikan terhadap niat. Yang perlu dicatat, keterlepasan ini tidak dapat dijelaskan oleh rendahnya variasi: persepsi kontrol perilaku justru mencatatkan simpangan baku tertinggi di antara kelima konstruk. Responden berbeda secara substansial dalam memandang keterjangkauan properti, namun perbedaan tersebut tidak diterjemahkan menjadi perbedaan dalam niat. Dengan demikian, dewasa muda Indonesia tetap berniat berinvestasi pada properti fisik meskipun merasa belum mampu menjangkaunya, yang menunjukkan bahwa investasi properti berfungsi lebih sebagai tujuan aspirasional daripada perhitungan finansial jangka pendek. Penelitian ini berkontribusi pada literatur dengan memberikan dukungan empiris bagi pemosisian literasi finansial sebagai anteseden penuh terhadap determinan Theory of Planned Behavior, serta dengan mengidentifikasi kondisi batas bagi teori tersebut dalam konteks ini: pada pasar yang ditandai oleh ketidakterjangkauan struktural yang mengakar, persepsi kontrol perilaku tidak memprediksi niat, meskipun terdapat variasi yang substansial dalam cara keterjangkauan dipersepsikan. Secara praktis, bertahannya niat meskipun persepsi keterjangkauan rendah mengindikasikan adanya niat laten yang substansial pada segmen properti dewasa muda. Namun, minat tersebut tidak dapat disamakan dengan permintaan pasar efektif, yang juga membutuhkan kemampuan daya beli. Intervensi yang memperluas akses pembiayaan menyasar kesenjangan kemampuan tersebut, sementara edukasi finansial yang ditujukan untuk membentuk perilaku investasi sebaiknya berfokus pada pengembangan penilaian evaluatif yang terinformasi, bukan sekadar pada transmisi pengetahuan teknis.