digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perawatan tradisional Jawa merupakan ruang pengalaman yang dibentuk oleh relasi antara sejarah, tradisi, tubuh, indera, emosi, dan makna tempat. Nurkadhatyan Spa di lingkungan Pesanggrahan Ambarrukmo, Yogyakarta, memiliki posisi penting karena berada dalam situs sejarah berusia sekitar 200 tahun yang terkait dengan tradisi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Konteks tersebut menjadikan pengalaman spa tidak hanya berlangsung sebagai layanan perawatan tubuh kontemporer, tetapi juga sebagai pengalaman dalam lanskap warisan budaya yang memuat jejak tradisi perawatan tubuh perempuan Jawa. Penelitian ini menempatkan tradisi perawatan tubuh di Keputren sebagai landasan historis, kultural, dan konseptual untuk membaca praktik Ngadi Saliro yang diadaptasi di Nurkadhatyan Spa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi aspek pembentuk intimasi dalam tradisi perawatan tubuh Ngadi Saliro, menganalisis bagaimana adaptasi tradisi Keputren pada setting spasial dan sosial-kultural Nurkadhatyan Spa membentuk pengalaman perempuan, serta merumuskan model intimasi ruang dalam konteks pembentukan sense of place. Dalam penelitian ini, sense of place dipahami sebagai luaran pengalaman, sedangkan intimasi ruang diposisikan sebagai mediator yang menghubungkan setting ruang, layanan, tubuh, pengalaman multisensori, pengalaman afektif, narasi budaya, dan pemaknaan tempat. Intimasi ruang tidak dipahami semata sebagai kedekatan fisik, tetapi sebagai kondisi afektif-relasional yang terbentuk melalui privasi, rasa aman, kepercayaan, kontrol atau agency, personalisasi, embodied care, dan pengendapan pengalaman. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi melalui studi literatur, observasi, dokumentasi, pembacaan artefak, serta wawancara mendalam terhadap 30 partisipan perempuan setelah menjalani rangkaian perawatan di Nurkadhatyan Spa. Analisis dilakukan melalui pembacaan tematik-relasional terhadap alur pengalaman berfase, mulai dari kedatangan, perpindahan pertama, perawatan, perpindahan kedua, hingga relaksasi atau penutup. Pembacaan ini diperkuat dengan Associative Conceptual Network Analysis (ACNA) untuk menelusuri jaringan asosiasi kata, impresi dominan, dan kedalaman kognitif pengalaman partisipan. Dengan demikian, pengalaman spa dibaca tidak hanya sebagai narasi verbal, tetapi juga sebagai struktur asosiasi antara unsur sensorik, afektif, tubuh, memori, dan makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intimasi ruang dalam spa tradisional Jawa dibentuk oleh empat aspek utama, yaitu aspek spasial, aspek sosial-kultural, aspek aktivitas ritual dan proksimitas, serta aspek makna privat, kultural, dan pemulihan diri. Tradisi Keputren berperan sebagai fondasi historis yang memperlihatkan pentingnya ruang perempuan yang privat, relasi sosial yang mengasuh, praktik perawatan tubuh yang holistik, serta makna perawatan sebagai bagian dari pembentukan diri perempuan. Dalam adaptasinya di Nurkadhatyan Spa, nilai-nilai tersebut diterjemahkan melalui atmosfer Jawa-Keraton, tata ruang, material, aroma, suara, taman, minuman, sentuhan, suhu, posisi tubuh, alur layanan, privasi, dan interaksi terapis yang dibingkai oleh etika unggah-ungguh. Temuan utama penelitian menegaskan bahwa sense of place pada spa tradisional Jawa tidak terbentuk secara langsung dari estetika budaya, elemen interior, atau simbol Keraton semata, melainkan melalui proses intimasi ruang yang berfase, embodied, multisensori, afektif, naratif, dan relasional. Dimensi sense of place paling dominan muncul melalui dependence dan attachment, sementara continuity hadir melalui jejak memori sensorik, dan identity muncul secara selektif ketika pengalaman dipersonalisasi sebagai rasa dimanjakan, berkelas, atau terhubung dengan citra perempuan Keraton. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian sense of place dengan menempatkan intimasi ruang sebagai mediator utama antara setting ruang dan pemaknaan tempat, serta memberikan implikasi bagi perancangan interior dan pengelolaan spa tradisional Jawa yang peka terhadap kebutuhan psikologis, sensorik, tubuh, dan kultural perempuan.