Pertumbuhan jumlah investor ritel di pasar modal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tidak sepenuhnya diiringi oleh peningkatan kapabilitas analisis investasi yang terstruktur. Meskipun literasi dan partisipasi investasi mengalami peningkatan, banyak investor masih mengandalkan rekomendasi informal, opini pihak ketiga, serta strategi berbasis momentum dalam pengambilan keputusan. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan utama bukan semata-mata keterbatasan akses informasi, melainkan ketiadaan support tools yang mampu menerjemahkan literasi keuangan menjadi proses analisis yang sistematis dan konsisten. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi secara konseptual model layanan konsultasi investasi yang dirancang untuk memperkuat investor capabilities melalui integrasi analytical support tools dan pendampingan personal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif yang berlandaskan kerangka problem–solution fit dan product–market fit. Studi dilakukan di Lampung dengan melibatkan investor ritel yang dipilih secara purposive, terdiri dari profesional, pengusaha, pensiunan, dan pekerja awal karier yang telah memiliki pengalaman investasi namun belum memiliki kerangka analisis yang terstruktur. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur untuk menggali proses pengambilan keputusan investasi, keterbatasan analitis, pola ketergantungan terhadap rekomendasi, serta persepsi terhadap layanan berbasis support tools. Data dianalisis menggunakan thematic analysis melalui proses open coding dan pengelompokan tema yang selaras dengan konstruk problem–solution fit, value proposition, dan product–market fit.
Hasil penelitian menunjukkan empat tema utama. Pertama, keterbatasan struktur analisis, di mana responden mengalami kesulitan dalam membaca laporan keuangan, melakukan valuasi, memprioritaskan indikator yang relevan, serta mengelola risiko secara sistematis. Kedua, pola ketergantungan terhadap rekomendasi eksternal, yang menunjukkan bahwa keputusan investasi sering kali tidak berbasis kerangka evaluasi yang konsisten. Ketiga, kebutuhan akan support tools yang terstruktur, berupa roadmap analisis, mekanisme evaluasi yang lebih sederhana, serta pendampingan dalam interpretasi data. Keempat, persepsi nilai dan penerimaan layanan, di mana responden menilai bahwa integrasi analytical support tools dan sesi coaching personal dapat meningkatkan kejelasan, kepercayaan diri, dan disiplin dalam pengambilan keputusan. Temuan ini mengonfirmasi adanya problem–solution fit karena solusi yang dirancang secara langsung menjawab kesenjangan struktural yang dialami investor ritel.
Dari perspektif product–market fit, hasil validasi kualitatif menunjukkan adanya persepsi kegunaan, relevansi, dan kesiapan adopsi pada segmen sasaran. Model yang dikembangkan menggeser orientasi layanan konsultasi dari pendekatan berbasis rekomendasi menjadi pendekatan penguatan kapabilitas analitis. Fokus layanan bukan pada pemberian prediksi saham, melainkan pada pembangunan struktur berpikir dan mekanisme pengambilan keputusan yang sistematis. Meskipun penelitian ini terbatas pada validasi kualitatif dalam konteks wilayah tertentu dan belum menguji kinerja finansial, penelitian ini memberikan kontribusi konseptual dalam pengembangan model konsultasi investasi berbasis empowerment yang selaras dengan kebutuhan pengguna dan kesiapan pasar.
Perpustakaan Digital ITB