Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kompleksitas operasional pada rute Jakarta–Makassar (CGK–UPG), sebuah rute domestik sangat padat yang menghubungkan dua hub utama Indonesia dan tetap menunjukkan peningkatan permintaan meskipun tren pergerakan nasional melambat. Dengan jarak yang panjang dan lintasan yang melintasi dua FIR, rute ini relevan untuk dianalisis dalam konteks efisiensi lintasan serta pengembangan Trajectory Based Operations (TBO). Penelitian ini mengevaluasi efisiensi lintasan penerbangan pada rute tersebut menggunakan data historis ADS-B dan simulasi berbasis BlueSky ATM Simulator. Data dari FlightAware diolah melalui proses pembersihan, standarisasi, Principal Component Analysis (PCA), dan K-Means Clustering untuk memperoleh lintasan representatif berbasis data. Lintasan ini kemudian dibandingkan dengan rute RNAV T-5 dan rute konvensional VOR/NDB sebagaimana tercantum dalam AIRAC AIP AMDT 162. Simulasi stokastik digunakan untuk menilai performa ketiga rute berdasarkan jarak tempuh, waktu penerbangan, konsumsi bahan bakar, dan emisi CO?. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lintasan Data-Driven lebih efisien dibandingkan kedua rute acuan, dengan jarak dan durasi penerbangan yang lebih singkat serta kebutuhan bahan bakar dan emisi yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis data historis dapat menghasilkan lintasan yang lebih optimal dan mendukung implementasi TBO pada rute domestik Indonesia serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goal 13 (Climate Action) melalui pengurangan emisi karbon di sektor transportasi udara
Perpustakaan Digital ITB