Penelitian ini merekomendasikan strategi ekspansi fasilitas yang optimal bagi distributor buah di Indonesia yang kapasitas pematangan pisang Cavendish-nya tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan yang meningkat, dengan mengintegrasikan analisis kuantitatif dan kualitatif untuk mengevaluasi konfigurasi alternatif. Klasterisasi K-Means digunakan untuk mensegmentasi permintaan pelanggan dan mengidentifikasi lokasi fasilitas baru yang potensial, yang kemudian dibandingkan dengan lokasi yang sudah ada untuk menghasilkan alternatif ekspansi. Linear Programming (LP) kemudian diterapkan untuk menilai implikasi biaya total dari konfigurasi jaringan terpusat (sentralisasi), tersebar (desentralisasi), dan hibrida. Untuk mengakomodasi perspektif manajerial, Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk memberi bobot pada kriteria kuantitatif seperti biaya dan responsivitas, bersamaan dengan kriteria kualitatif termasuk kualitas produk dan keselarasan sumber pasokan (sourcing alignment). Analisis K-Means mengidentifikasi tata letak optimal dengan 5-pusat (centroid) dan 3-pusat, yang mengindikasikan potensi konsolidasi di Jawa Tengah dan menghasilkan empat alternatif ekspansi yang layak. Meskipun hasil LP menunjukkan konfigurasi hibrida sebagai opsi berbiaya terendah, analisis AHP menyoroti preferensi pemangku kepentingan terhadap faktor-faktor non-biaya, yang mengarah pada pemilihan tata letak 5-pusat meskipun biayanya lebih tinggi. Uji sensitivitas mengkonfirmasi ketahanan (robustness) model hibrida dalam skenario yang didorong oleh biaya Penelitian ini berkontribusi dalam bentuk kerangka kerja pendukung keputusan yang terintegrasi yang menggabungkan klasterisasi, optimasi, dan analisis multi-kriteria untuk memandu perencanaan ekspansi fasilitas untuk barang yang mudah rusak (perishable goods). Kerangka kerja ini menawarkan pendekatan yang seimbang untuk desain jaringan logistik, menyelaraskan efisiensi operasional dengan sumber pasokan strategis dan tujuan kualitas dalam rantai pasok pisang di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB