Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara kecepatan dan
ketinggian pesawat saat melintasi threshold terhadap Runway Occupancy Time
Landing (ROTL) pada Runway 06 Bandar Udara Soekarno-Hatta, yang beroperasi
khusus untuk pendaratan dan memiliki pemisahan paralel 500 meter sehingga
efisiensi runway menjadi penentu kapasitas. Fokus penelitian diarahkan pada
pesawat kategori C yang keluar melalui Taxiway M2 sebagai pesawat mayoritas.
Sebanyak 2.000 data kedatangan Flightradar24 (Juli–Oktober 2025) dipotong dari
threshold hingga vacated untuk mendapatkan nilai ROTL aktual. Data kemudian
dipilah menjadi dua kelompok ekstrem: 5% ROTL terendah dan 5% tertinggi.
Kelompok ROTL terendah memiliki rata-rata kecepatan threshold 148 kt (?=9) dan
ketinggian 51 ft (?=3), yang digunakan sebagai dasar pemodelan pesawat acuan
(908.csv). Validasi awal BlueSky terhadap data aktual menghasilkan perbedaan
ROTL hanya ±1 detik, menandakan bahwa model simulasi mampu
merepresentasikan perilaku pendaratan secara realistis. Model selanjutnya
dijalankan dalam 300 skenario stokastik menggunakan distribusi normal dari hasil
statistik tersebut. Variasi ROTL yang muncul sangat konsisten pada rentang 51–53
detik, dengan rata-rata 51,77 detik dan tingkat keyakinan 95% berada pada 51,69–
51,85 detik, menunjukkan bahwa profil threshold 146 kt dan 51 ft stabil dalam
menekan durasi ROTL. Temuan ini menegaskan bahwa kecepatan threshold
merupakan variabel paling dominan dalam pengendalian ROTL, sementara
ketinggian lebih berpengaruh pada durasi flare dan titik touchdown. Rekomendasi
operasional yang dihasilkan dan dapat diterapkan tanpa perubahan infrastruktur
adalah Maintain stabilized approach crossing threshold at 51 ft AGL and 146 kt
(GS). After touchdown, maintain smooth and continuous deceleration to reach 50
kt by 2.000 m from threshold, then reduce to taxi speed 30 kt before vacating via
M2.
Perpustakaan Digital ITB